Kamis, 19 Oktober 2017

Askeb Kompre HDK

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5 – 15 % penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin.di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi dalam kehamilan juga masih tinggi. Hal ini disebabkan selain oleh etiologi tidak jelas, juga oleh perawatan dalam persalinan masih ditangani oleh petugas non medic dan system rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan dapat di alami oleh semua lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus dengan benar – benar dipahami oleh semua tenaga medik baik di pusat maupun di daerah.
Dalam pelayanan obstetri, selain Angka Kematian Materal (AKM) terdapat Angka Kematian Perinatal (AKP) yang dapat digunakan sebagai parameter keberhasilan pelayanan.Namun, keberhasilan menurunkan AKM di negara-negara maju saat ini menganggap AKP merupakan parameter yang lebih baik dan lebih peka untuk menilai kualitas pelayanan kebidanan.Hal ini mengingat kesehatan dan keselamatan janin dalam rahim sangat tergantung pada keadaan serta kesempurnaan bekerjanya sistem dalam tubuh ibu, yang mempunyai fungsi untuk menumbuhkan hasil konsepsi dari mudigah menjadi janin cukup bulan.Salah satu penyebab kematian perinatal adalah hipertensi yang menyebabkan preeklamsia (PE) dan eklamsia (E).
Perlu ditekankan bahwa sindroma preeklampsia ringan dengan hipertensi, edema, dan proteinuri sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan.Tanpa disadari, dalam waktu singkat dapat timbul preeklampsia berat, bahkan eklampsia.Dengan pengetahuan ini, menjadi jelas bahwa pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda-tanda preeklampsia, sangat penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yang lain.
2.      Tujuan
a.       Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan kebidanan pada ibu dengan hipertensi dalam kehamilan.
b.      Tujuan Khusus
1)      Mahasiswa dapat melakukan pengumpulan data pada ibu dengan hipertensi dalam kehamilan.
2)      Mahasiswa dapat melakukan pengkajian pada ibu dengan hipertensi  dalam kehamilan
3)      Mahasiswa dapat melakukan identifikasi diagnose
4)      Mahasiswa dapat memberikan asuhan pada ibu dengan hipertensi dalam kehamilan.





BAB II
TINJAUAN TEORI


A.    Hipertensi  Dalam  Kehamilan
Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5 – 15 % penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi dalam kehamilan juga masih tinggi.
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik dan diastolik  ≥ 140/90 mmHg. Pengukuran tekanan darah sekurang – kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam. Kenaikan tekanan darah sistolik ≥ 30 mmHg dan kenaikan tekanan darah diastolik ≥ 15 mmHg sebagai parameter hipertensi sudah tidak dipakai lagi.
( Prawirohardjo, Sarwono. 2011)
Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil, disebut juga sebagai pre – eklamsi tidak murni, superimposed pre – eklamsi bila disertai dengan proteinuria dan edema
(Sofian, 2013)

B.     Klasifikasi
Pembagian klasifikasi
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2001, ialah:
1.      Hipertensi kronik
2.      Preeklampsia – eklampsia
3.      Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia.
4.      Hipertensi gestasional
( Prawirohardjo, Sarwono. 2011)
C.     Penjelasan pembagian klasifikasi
1.      Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pascapersalinan.    Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria.
2.      Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/ atau koma.
3.      Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia adalah hipertensi kronik disertai tanda – tanda preeklampsia atau hipertensi kronik disertai proteinuria.
4.      Hipertensi gestasional (disebut juga transient hypertension) adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pascapersalinan atau kehamilan dengan tanda – tanda preeklampsia tetapi tanpa proteinuria.
( Prawirohardjo, Sarwono. 2011)
D.    Penjelasan Tambahan
a.       Proteinuria adalah adanya 300 mg protein dalam urine selama 24 jam atau sama dengan ≥ 1+ dipstick.
b.      Edema, dulu edema tungkai, dipakai sebagai tanda – tanda preeklampsia, tetapi sekarang edema tungkai tidak dipakai lagi, kecuali edema generalisata (anasarka). Perlu dipertimbangkan faktor resiko timbulnya hipertensi dalam kehamilan, bila didapatkan edema generalisata, atau kenaikan berat badan > 0,57 kg/minggu.
(Reeder, Sharon J. 2011)
Primigravida yang mempunyai kenaikan berat badan rendah, yaitu <0,34 kg/minggu, menurunkan risiko hipertensi, tetapi menimbulkan risiko berat badan bayi rendah.
(Manuaba, Ida Bagus Gde. 2012)

E.     Faktor Risiko
Terdapat banyak faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang dapat dikelompokan dalam faktor risiko sebagai berikut:
1.      Primigravida, primipaternitas.
2.      Hiperplasentosis, misalnya: mola hidatidosa, kehamilan multiple, diabetes mellitus, hidrops fetalis, bayi besar
(Medforth, Janet, et al. 2012)
3.      Umur yang ekstrim
4.      Riwayat keluarga yang pernah preeklampsia/eklampsia
5.      Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
6.      Obesitas
(Feryanto, Ahmad, Fadlun. 2012)
F.      Patofisiologis
Penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan jelas. Banyak teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan, tetapi tidak ada satupun teori tersebut yang dianggap mutlak benar. Teori-teori yang sekarang banyak dianut adalah :
1.      Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapat aliran darahdari cabang-cabang arteri uterine dan arteri ovarika. Kedua pembuluh darah tersebut menembus miometrium berupa arteri arkuarta dan arteri arkuarta member cabang arteri radialis. Arteria radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis dan arteri basalis memberi cabang arteria spiralis.
Pada hamil normal, dengan sebab yang belum jelas, terjadi invasi trofoblas kedalam lapisan otot arteria spiralis, yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis. Invlasi tropoblas juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis, mengalami distensi dan dilatasi. Distensi dan Vasodilatasi lumen arteri spiralisini memberi dampak penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada daerah utero plasenta. Akibatnya, aliran darah kejanin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini dinamakan “remodeling arteri spiralis”.
Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot arteri spiralis menjadi tetap kaku dank eras sehingga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akibatnya, arteri spiralis relatif mengalami vasokontriksi, dan terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis”, sehingga aliran darah uteroplasentamenurun, dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Dampak iskemia plasenta akan menimbulkan perubahan-perubahan yang dapat menjelaskan patogenesis HDK selanjutnya.
(Feryanto, Ahmad, Fadlun. 2012)
Diameter rata-rata arteri spiralis pada hamil normal adalah 500 mikron, sedangkan pada preeklampsia rata-rata 200 mikron. Pada hamil normal vasodilatasi lumen arteri spiralis dapat meningkatkan 10 kali aliran darah ke utero plasenta.
          (Medforth, Janet, et al. 2012)
2.         Teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel
a.       Iskemia plasenta dan pembentukan oksidan/radikal bebas
Sebagaimana dijelaskan pada teori invasi trofoblas, pada hipertensi dalam kehamilan terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis” dengan akibat plasenta mengalami iskemia.Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan menghasilkan oksidan (disebut juga radikal bebas).
Oksidan atau radikal bebas adalah senyawa penerima elektron atau atom/molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan.
Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah radikal hidroksil yang sangat toksis, khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Sebenarnya produksi oksidan pada manusia adalah suatu proses normal, karena oksidan memang dibutuhkan untuk perlindungan tubuh. Adanya radikal hidroksil dalam tubuh mungkin dahulu dianggap sebagai bahan toksin yang beredar dalam darah, maka dulu hipertensi dalam kehamilan disebut “toxaemia”.
Radikal hidroksil akan merusak membran sel, yang mengandung banyak asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak.peroksida lemak selain akan merusak membran sel, juga akan merusak nucleus, dan protein sel endotel.
Produksi oksidan (radikal bebas/) dalam tubuh yang bersifat toksis, selalu diimbangi dengan produksi antioksidan.
(Medforth, Janet, et al. 2012)
b.      Peroksida lemak sebagai oksidan pada hipertensi dalam kehamilan.
Pada hipertensi dalam kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan, khususnya peroksida lemak meningkat, sedangkan antioksidan, missal vitamin E pada hipertensi dalam kehamilan menurun, sehingga terjadi dominasi kadar oksidan peroksida lemak yang relative tinggi.
Peroksida lemak sebagai oksidan/radikal bebas yang sangat toksis ini akan beredar di seluruh tubuh dalam aliran darah dan akan merusak membran sel endotel.
Membran sel endotel lebih mudah mengalami kerusakan oleh peroksida lemak, karena letaknya langsung berhubungan dengan aliran darah dan mengandung banyak asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh sangat rentan terhadap oksidan radikal hidroksil, yang akan berubah menjadi peroksida lemak.
(Medforth, Janet, et al. 2012)
c.       Disfungsi sel endotel
Akibat sel endotel terpapar terhadap peroksida lemak. Maka terjadi kerusakan sel endotel, yang kerusakannya dimulai dari membrane sel endotel. Kerusakan membran sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel. Keadaan ini disebut “disfungsi endotel” (endothelial dysfunction). Pada waktu terjadi kerusakan sel endotel yang mengakibatkan disfungsi sel endotel, maka akan terjadi :
·         Gangguan metabolisme prostaglandin , karena salah satu fungsi sel endotel, adalah memproduksi prostaglandin, yaitu menurunnya produksi prostasiklin (PGE2): suatu vasodilatator kuat.
·         Agregasi sel-sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami kerusakan.
Agregasi sel trombosit ini adalah yang menutup tempat-tempat dilapisan endotel yang mengalami kerusakan. Agregasi trombosit memproduksi tromboksan (TXA2) suatu vasokonstriktor kuat.
·         Dalam keadaan normal perbandingan kadar prostasiklin/tromboksan lebih tinggi kadar prostasiklin (lebih tinggi vasodilatatora). Pada preeklampsia kadar tromboksan lebih tinggi dari kadar prostasiklin sehingga terjadi vasokonstriksi, dengan terjadi kenaikan tekanan darah.
·         Perubahan khas pada sel endotel kapilar glomerulus (glomerular endotheliosis)
·         Peningkatan permeabilitas kapilar
·         Peningkatan produksi bahan-bahan vasopresor, yaitu endotelin. Kadar NO (vasodilatator) menurun, sedangkan endotel (vasokonstriktor)
·         Peningkatan faktor koagulasi.
(William, offord. 2013)
3.      Teori intoleransi Imunologik antara ibu dan janin
Dugaan bahwa factor imunologik berperan terhadap terjadinya hipertensi dalam kehamilan terbukti dengan fakta sebagai berikut.
           Primigravida mempunyai risiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan multigravida.
           Ibu yang multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai risiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan suami yang sebelumnya.
           Seks oral mempunyai risiko lebih rendah terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Lamanya periode hubungan seks sampai saat kehamilan ialah makin lama periode ini, makin kecil terjadinya hipertensi dalam kehamilan.
Pada perempuan hamil normal, respons imun tidak menolak adanya “hasil konsepsi” yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya human leukosite antigen protein G  (HLA-G), yang berperan penting dalam modulasi respon imun, sehingga si ibu tidak menolak hasil konsepsi (plasenta). Adanya HLA-G pada plasenta dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel Natural killer (NK) ibu.
Selain itu, adanya HLA-G akan mempermudah invasi sel trofoblas kedalam jaringan desidua ibu. Jadi HLA-G merupakan prakondisi untuk terjadinya invasi trofoblas ke dalam jaringan desidua ibu, disamping untuk menghadapi sel natural killer. Pada plasenta hipertensi dalam kehamilan, terjadi penurunan ekspresi HLA-G. berkurangnya HLA-G di desidua daerah plasenta, menghambat invasi trofoblas kedalam desidua. Invasi trofoblas sangat penting agar jaringan desidua menjadi lunak, dan gembur sehingga memudahkan terjadinya dilatasi arteri spiralis. HLA-G juga merangsang produksi sitikon, sehingga memudahkan terjadinya reaksi inflamasi. Kemungkinan terjadi Immune-Maladaptation pada preeklampsia.
Pada awal trimester kedua kehamilan perempuan yang mempunyai kecenderungan yang terjadi preeklampsia, ternyata mempunyai proporsi Helper Sel yang lebih rendah dibanding pada normotensif.
          (Medforth, Janet, et al. 2012)
4.    Teori adaptasi kardiovaskuler
Pada hamil normal pembuluh darah refrakter terhadap bahan-bahan vasopresor. Refrakter, berarti pembuluh darah tidak peka terhadap rangsangan bahan vasopresor, atau dibutuhkan kadar vasopresor yang lebih tinggi untuk menimbulkan respons. Pada kehamilan normal terjadinya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor adalah akibat dilindungi oleh adanya sintesis prostaglandin pada sel endotel pembuluh darah. Hal ini dibuktikan bahwa daya refrakter terhadap bahan vasopresor akan hilang bila diberi prostaglandin sintesa inhibitor (bahan yang menghambat produksi prostaglandin). Prostaglandin ini dikemudian hari ternyata adalah prostasiklin.
Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor. Artinya, daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang sehingga pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor. Banyak peneliti telah membuktikan bahwa peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor pada hipertensi dalam kehamilan sudah terjadi pada trimester 1 (pertama). Peningkatan kepekaan pada kehamilan yang akan menjadi hipertensi dalam kehamilan, sudah dapat ditemukan pada kehamilan dua puluh minggu. Fakta ini dapat dipakai sebagai prediksi akan terjadinya hipertensi dalam kehamilan.
(Fraser, Diane M, Margaret A. Cooper. 2011)
5.      Teori Genetik
Ada faktor keturunan dan familial dengan model gen tunggal. Genotipe ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial jika dibandingkan dengan genotipe janin. Telah terbukti bahwa pada ibu yang mengalami preeklampsia, 26% anak perempuannya akan mengalami preeklampsia pula,sedangkan hanya 8 % anak menantu mengalami preeklamsia.
(Reeder, Sharon J. 2011)
6.      Teori  Defisiensi Gizi (Teori diet)
Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kekurangan defisiensi gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam kehamilan.
Penelitian yang penting yang pernah dilakukan di Inggris ialah penelitian tentang pengaruh diet pada preeklampsia beberapa waktu sebelum pecahnya perang Dunia II. Suasana serba sulit mendapat gizi yang cukup dalam persiapan perang menimbulkan kenaikan insiden hipertensi dalam kehamilan.
Penelitian terakhir membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan, termasuk minyak hati halibut, dapat mengurangi risiko preeklampsia.
Minyak ikan mengandung banyak asam lemak tidak jenuh yang dapat menghambat produksi tromboksan, menghambat aktivasi trombosit, dan mencegah vasokonstriksi pembuluh darah.
Beberapa peneliti telah mencoba melakukan uji klinik untuk memakai konsumsi minyak ikan atau bahan yang mengandung asam lemak tak jenuh dalam mencegah preeklampsia.hasil sementara menunjukan bahwa penelitian ini berhasil baik dan mungkin dapat dipakai sebagai alternatif pemberian aspirin.
Beberapa peneliti juga menganggap bahwa defisiensi kalsium pada diet perempuan hamil mengakibatkan  risiko terjadinya preeklampsia/eklampsia. Penelitian di Negara Equador Andes dengan metode uji klinik, ganda tersamar, dengan membandingkan pemberian kalsium dan plasebo. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ibu hamil yang diberi suplemen kalsium cukup, kasus yang mengalami preeklampsia adalah 14 % sedang yang diberi glukosa 17 %.

7.    Teori Stimulus Inflamasi
Teori ini berdasarkan fakta bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam sirkulasi darah merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi.
Pada kehamilan normal plasenta juga melepaskan debris trofoblas, sebagai sisa-sisa proses apoptosis dan nekrotik trofoblas, akibat reaklsi stress oksidatif.
Bahan-bahan ini sebagai bahan asing yang kemudian merangsang timbulnya proses inflamasi. Pada kehamilan normal, jumlah debris trofoblas masih dalam batas wajar, sehingga reaksi inflamasi juga masih dalam batas normal. Berbeda dengan proses apoptosis pada preeklampsia, di mana pada preeklampsia terjadi peningkatan stress oksidatif, sehingga produksi debris apoptosis dan nekrotik trofoblas juga meningkat. Makin banyak sel trofoblas plasenta, misalnya pada plasenta besar, pada hamil ganda, maka reaksi stress oksidatif akan sangat meningkat, sehingga jumlah sisa debris trofoblas juga makin meningkat. Keadaan ini menimbulkan beban reaksi inflamasi dalam darah ibu menjadi jauh lebih besar, disbanding reaksi inflamasi pada kehamilan normal. Respons inflamasi ini akan mengaktivasi sel endotel, dan sel-sel makrofag/granulosit, yang lebih besar pula, sehingga terjadi reaksi sistemik inflamasi yang menimbulkan gejala-gejala preeklampsia pada ibu.
Disfungsi endotel pada preeklampsia akibat produksi debris trofoblas plasenta berlebihan tersebut diatas, mengakibatkan “aktivitas leukosit yang sangat tinggi” pada sirkulasi ibu. Peristiwa ini oleh redman disebut sebagai “kekacauan adaptasi dari proses inflamasi intravaskular pada kehamilan” yang biasanya berlangsung normal dan menyeluruh.
(Medforth, Janet, et al. 2012)

G.    Diagnosis
Tabel: Kriteria Diagnostik Yang Digunakan Pada Diagnosis Gangguan Hipertensi Penyulit Kehamilan
Tipe Hipertensi
Kriteria Diagnostik
Makna
Hipertensi Gestasional
·         Awitan baru hipertensi, umumnya setelah usia kehamilan 20 minggu.
·         Hipertensi didefinisikan sebagai:
ü  TD sistol ≥40 mmHg
ü  TD Diastol ≥ 90 mmHg
·         Menggantikan istilah PIH
·         Diagnosis bersifat retrospektif.
·         Nilai tekanan darah kembali ke normal seperti sebelum hamil saat 12 minggu pasca partum.
·         Pikirkan tentang oksigenasi dan perfusi
Pre Ekalmpsia
·         Hipertensi Gestasional disertai proteinuria gestasinal pada wanita yang memiliki tekanan darah normal sebelum hamil.
·         Proteinuria gestasional diartikan sebagai:
ü  > 300 mg pada spesimen acak
ü  ≥ 1+ pada dipstik
·         Pada kondisi tidak terjadi proteinuria, curigai jika terdapat hal-hal berikut:
ü  Sakit kepala
ü  Penglihatan kabur
ü  Nyeri abdomen
ü  Pemeriksaan lab abnormal
Berat
·         Diagnosis preeklampsia diserta paling sedikit satu kriteria berikut:
ü  TD Sistol ≥ 160 mmHg
ü  TD Daistol ≥ 110 mmHg
ü  Proteinuria > 2 g/24 jam
ü  Kreatinin serum > 1,2 mg/dl ( kecuali diketahui pernah meningkat sebelumnya)
ü  Trombosit <100.000
ü  Peningkatan laktat dehidrogenase (hemolisis)
ü  Peningkatan ALT atau AST
ü  Gangguan serebral/visual, sakit kepala yang persisten
ü  Nyeri epigastrik persisten
·         Salah satu pasien yang paling sakit
·         Peningkatan resiko komplikasi
·         Kriteria tambahan untuk diagnosis dapat meliputi:
ü  Oliguria yang didefinisikan sebagai pengeluaran urine <500 ml/24 jam
ü  Edema paru
ü  Gangguan fungsi hati yang tidak jelas etiologinya
ü  IUGR
ü  Oligohidramnion
ü  Kejang grand mal (eklampsia)
Sindrom HELLP
·         Diagnosis berdasarkan pada adanya:
ü  Hemolisis
ü  Peningkatan enzim hati
ü  Trombosit rendah
·         Hemolisis
ü  Apus perifer abnormal
ü  Laktat dehidrogenase >600 U/I
ü  Bilirubin total ≥ 1,2 mg/dl
·         Peningkatan enzim hati
ü  AST serum > 70 unit/l
ü  Laktat dehidrogenase >600 U/I
·         Trombosit rendah < 150.000
·         Bentuk pre ekalmpsia berat
·         Diagnosis lab
·         Gangguan oksigenasi dan perfusi
·         Keparahan penyakit, morbiditas/mortalitas, dan pemulihan terkait kadar trombosit
ü  < 150.000 tetapi >100.000
ü  < 100.000 tetapi > 50.000
ü  < 50.000
Eklampsia
·         Diagnosis pre ekalmpsia
·         Kejadian kejang
·         Tidak ada kemungkinan etiologi kejang yang lain
·         Pasien sakit kritis
·         Beresiko mengalami hemoragi serebral dan aspirasi
·         Aturan Foley 13:
ü  13 % kematian
ü  13% abrupsio
ü  13% kejang setelah terapi MgSO4
ü  13% kejang terjadi >48 jam pasca partum
Hipertensi kronis
·         Hipertensi didefinisikan:
ü  TD sistol ≥140 mmHg
ü  TD Diastol ≥ 90 mmHg
·         Hipertensi
ü  Sudah ada dan dapat diobservasi sebelum kehamilan
ü  Didiagnosis sebelum usia kehamilan 20 minggu
ü  Menetap lebih dari 12 minggu pasca partum
·         Diagnosis tidak diketahui
·         Meningkatkan risiko abrupsio pada kehamilan
Superimposed preeklampsia
·         Diagnosis berdasarkan pada munculnya ≥ 1 kejadian berikut pada wanita yang mengalami hipertensi kronis.
ü  Awitan baru proteinuria
ü  Hipertensi dan proteinuria sebelum usia kehamilan 20 minggu
ü  Peningkatan proteinuria yang tiba-tiba
ü  Peningkatan TD yang tiba-tiba ( sebelumnya terkontrol baik)
ü  Peningkatan ALT atau AST ke kadar yang abnormal
ü  trombositopenia
·         prognosis buruk pada ibu dan bayi
·         mengharuskan pemantauan ketat
·         penetapan waktu pelahiran ditentukan melalui pengkajian kesejahteraan ibu janin yang menyeluruh bukan hasil akhir yang baku.
(Kennedy et al., 2014)

H.    Jenis Hipertensi
a.       Hipertensi Gestasional
Hipertensi gestasional didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang terdeteksi pertama kali setelah pertengahan kehamilan, umumnya setelah kehamilan 20 minggu. Beresiko terjadinya mortalitas janin karena peningkatan insidens pelahiran premature. Salah satu penyebab umum kematian maternal  di Negara berkembang(Kennedy et al., 2014).
Disebut sebagai hipertensi gestasional pada kehamilan jika hipertensi pertama kali terdiagnostik saat kehamilan, bersifat sementara, tidak berkembang menjadi preeklampsia dan ibu hamil memiliki tekanan darah normal saat 12 minggu pasca partum. Didiagnisis sebagai hipertensi kronis jika peningkatan tekanan darah menetap lebih dari 12 minggu pascapartum.
b.      Pre Eklampsia/eklampsia
Pre eklampsi merupakan perkembangan hipertensi gestasional yang ditandai dengan gangguan pada ginjal, yang dibuktikan dengan awitan proteinuria. Preeklampsia, baik yang tergolong ringan maupun berat, didiagnosis berdasarkan temuan pada ibu ataupun janin. Peningkatan tekanan darah gestasional didefinisikan sebagai TD sistol sebesar 140 mmHg atau lebih pada ibu yang memiliki tekanan darah normal sebelum usia kehamilan 20 minggu. Terjadi lebih awal pada molahidatidosa atau hidrops (penyakit tropoblas plasenta).
A.     Etiologi
Belum diketahui dengan pasti, namun teori yang sering dipakai adalah “ iskemia plasenta “  namun teori ini belum menerangkan dengan jelas penyebab penyakit seperti
                                    a)      Frekuensi tinggi pada : primigravida, molla hidatidosa, gmelli, hidramion
                                   b)      Bertambang sering seiring tuanya kehamilan, umumnya trimester III
                                    c)      Penyakit mengalami perbaikan  bila terjadi kematian janin dalam kandungan
                                   d)      Frekuensi lebih rendah pada kehamilan berikutnya
                                    e)      Penyebab timbulnya konvulsi, edema dan koma
(Sofian, 2013)
B.     Perubahan organ
a)      Otak
Pada PE aliran darah dan pemakaian oksigen dalam batas normal, pada eklamsi  resistensi pembuluh darah meninggi, ini terjadi pula pada pembuluh darah otak. Edema yang terjadi pada otak dapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan visus, bahkan dalam keadaan lanjut dapat terjadi perdarahan
b)      Plasenta dan rahim
Aliran darah menurun keplasenta menyebabkan gangguan plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan pada janin dank arena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada PE dan eklamsi sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaanya terhadap rangsangan  sehingga terjadi partus prematurus
c)      Ginjal
Filtrasi glomerolus berkurang oleh karena aliran ginjal menurun. Hal ini meyebabkan filtrasi natrium melalui glomerolus menurun sehingga akibatnya terjadi retensi garam dan air. Filtrasi glomerolus dapat turun sampai 50 % dari normal sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria.
d)      Paru – paru
Kematian ibu pada PE dan eklamsi biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa pula terjadi aspirasi pneumonia atau abses paru
e)      Mata
Dapat dijumpai edema retina dan spasme pembuluh darah. Bila terdapat hal – hal tersebut  maka harus dicuriagai terjadinya PEB. Pada eklamsi dapat terjadi ablasio retina yang edema intra okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan
C.     Klasifikasi PE
a)      PER
·         TD 140/90 dalam posisi berbaring atau kenaikan diastolic 30 mmHg , kenaikan diastolic 15 mmHg, diperiksa minimal 2 kali dengan jarak periksa 1 jam
·         Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka atau kenaikan BB 1 kg/minggu
·         Protein urine kuantitatif 0,3 gr / lebih, kualitatif  1+, 2+ pada urine kateter
·         Pengobatan hanya bersifat simtomatis, priksa 2 kali seminggu
·         Penanganan :  istirahat ditempat tidur, diit rendah garam dan berikan obat – obatan seperti valium tablet 5 mg dosis 3 kali sehari / fenobarbital tablet 30 mg 3 kali sehari
·         Dierutik  dan obat anti hipertensi tidak dianjurkan, karena dapat menutupi tanda & gejala PE
·         Bila gejala menetap, monitor keadaan janin : kadar estriol urin, lakukan amnioskopi, dan USG. Bila keadaan mengijinkan dilakukan induksi  pada uk 37 minggu
b)      PEB
·         TD 160/110 mmHg atau lebih
·         Protein urine 5 gr/lebih
·         Oliguria, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc/24 jam
·         Gangguan serebral, gangguan visus dan nyeri epigastrium
·         Terdapat edema paru dan cianosis
PEB dengan UK dibawah 37 minggu
·         Injeksi Sulfas Magnesikus 8 gr IM, lanjutkan  4 gr IM setiap 4 jam
·         Monitor ibu
·         Jika tidak ada perbaikan, dilakukan terminasi kehamilan
PEB dengan UK diatas 37 minggu
·         Bedrest total
·         Diit rendah garam dan tinggi protein
·         Injeksi MgSO4 8 gr IM, 4 gr boka – boki
·         Injeksi dapat diulang dengan dosis 4 gr setiap 4 jam
·         Syarat pemberian MgSO4 : reflex patella +,  dieresis 100 cc dalam 4 jam terakhir, respirasi 16 x/menit, harus tersedia  antidotum yaitu kalsium glukonas 10% dalam 10 cc
·         Infuse dekstrosa 5 % dan RL
·         Diuretic tidak diberikan kec, terjadi edema paru dan kegagalan jantung kongestif,. Inj 1 amp lasix
·         Induksi partus
·         Percepat persalinan kala II, ibu dilarang mengedan
·         Jangan berikan methergin kec ada perdarahan pp
(WHO, 2013)



c.       Screning
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta mengenali tanda – tanda sedini mungkin PER, lalu diberikan pengobatan yang cukup sehingga penyakit tidak bertambah berat
 factor presdiposisi :
·         Mola hidatidosa
·         Diabetes mellitus
·         Gmelli
·         Hidrop fetalis
·         Obesitas
·         Umur lebih dari 35 tahun
(Sofian, 2013)
·         Primi muda
·         Kehamilan kedua tetapi dengan suami baru
·         Bumil memiliki riwayat  (hipertensi, sindrom nefrotik, penyakit ginjal polikistik,)
·         Ras kulit hitam berusia diatas 35 tahun
·         Mendertita penyakit kolagen vaskuler (lupus / syndrome  antibody posfolifid)
·         Riwayat hipeternsi pada kehamilan sebelumnya
(Kennedy et al., 2014)
d.      Berikan penanganan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan serta pentingnya mengatur diet rendah garam, rendah lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein juga kenaikan berat badan yang berlebihan
(Sofian, 2013)
e.       Menghitung tekanan arteri rata – rata pada trimester ke dua untuk memperkirakan resiko dan morbiditas serta mortalitas terkait
f.       Menggunakan uji tekanan supin (roll-over test) dilakukan pada usia kehamilan 28 – 32 minggu untuk mendeteksi  sensitivitas unik ibu hamil terhadap zat vasopresor dalam system sirkulasinya melalui pengkajian tekanan darah  saat ibu berbaring miring dan kemudian telentang. Uji skrining ini tidak berisi hasil secara konsisten dapat diprediksi, diproduksi kembali dan reliable serta tidak boleh digunakan untuk memprediksi resiko pre eklamsi pada ibu hamil.
Karena criteria skrining yang reliable tidak tersedia, penekanan pada praktik klinis  harus terletak pada pengkajian criteria diagnostic yang akurat dan tepat waktu
E.     Patofisiologi
1        Vasokontriksi arteri umum dianggap dapat menyebabkan penurunan aliran darah melalui plasenta dan organ maternal
2        Kondisi ini dapat mnyebabkan retardasi atau restriksi pertumbuhan intrauterine, infark plasenta, dan solusio plasenta
Pada PE terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsy ginjal ditemukan spasme hebat pada arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh 1 sel darah merah, jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan ferifer agar oksigenasi jaringan dapat terpenuhi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan  dalam ruangan interstial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Protein urine dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerolus(Sofian, 2013)
PE merupakan gangguan multisystem yang spesifik pada plasenta. Patologi primer depek pada perkembangan plasenta. Proses fisiologis normal melibatkan sel – sel trofoblas  yang diturunkan dari embrio/janin yang meyerang lapisan desidua dan pembuluh darahnya, khususnya dinding arteriol pembuluh darah uterus. Invasi ini tampak dalam pembesaran arteriol spiralis yang progresif dan significan di lapisan endometrium. Hasil akhir pada PE adalah ketidak mampuan pembuluh darah uterus  untuk mengakomodasi peningkatan aliran darah yang diperlukan seiring pertambahan usia kehamilan, manifestasi klinis  dari gangguan ini menjadi jelas  saat unit plasenta janin memiliki suplai darah yang terlalu banyak.
F.      Komplikasi
1.     Solusio plasenta
2.     Syndrom HELP
3.     Koagulopati
4.     IUFD
5.     Kejang
6.     Koma
7.     Persalinan premature
8.     Gagal ginjal
9.     Kerusakan hati ibu
(Williams & Wilkins, 2012)
C. Eklampsia:
a)     Eklampsia merupakan aktifitas kejang atau koma pada ibu hamil yang terdiagnosis hipertensi gestasional dan preeklampsi, tanpa riwayat patologi neurologi sebelumnya.
b)    Ibu hamil yang mengalami eklampsia disertai sindrom help sering mengalami kondisi berikut:
·            Persalinan prematur
·            Usia kehamilan lebih awal
·            Berat badan lahir rendah
·            Skor apgar rendah
·            Morbiditas dan mortalitas perinatal lebih tinggi
c)     Kematian ibu lebih sering disebabkan kondisi berikut:
·            Abropsio plasenta
·            Hemoragi serebral
·            Gagal ginjal akut atau gagal jantung
·            DIC
d)    Penanganan kejang:
Kejang eklamptik umumnya dapat sembuh sendiri, dan berlangsung selama 1-2 menit. Perawatan cepat saat kejang adalah dengan memberikan terapi penunjang dan memastikan kepatenan jalan napas. Setelah kondisi ini dicapai, oksigenasi yang adekuat harus dipertahankan dengan menggunakan oksigen tambahan. Terapi penunjang dilanjutkan dan berfokus pada peminimalan resiko aspirasi, peminimalan risiko aktivitas kejang berulang, dan pengontrolan tekanan darah. Setelah kondisi pasien semakin stabil, manajemen diarahkan pada pelahiran bayi. 
Aspirasi merupakan penyebab utama morbiditas ib setelah kejang eklamptik. Ibu harus berada dalam posisi dekubitus lateral (berbaring miring) untuk meminimalkan risiko aspirasi jika muntah terjadi. Peralatan jalan napas darurat, termasuk pengisapan harus siap tersedia.
D. Pre Eklampsia yang menyertai hipertensi kronis
Kejadian preeklampsia pada wanita yang memasuki kehamilan disertai hipertensi yang sudah ada atau Preeklampsia yang menyertai hipertensi kronis. Janin berisiko lebih tinggi mengalami restriksi pertumbuhan dibanding pada kondisi preeklampsia atau hipertensi kronis saja.
E.  Hipertensi Kronis
a.        Pengertian
Hipertensi yang terjadi dan dapat diobservasi sebelum kehamilan, atau hipertensi yang terdiagnosis pertama kali saat kehamilan dan menetap lebih dari 84 hari pasca partum.
b.       Faktor predisposisi:
·         Wanita hamil dengan usia yang lebih tua
·         Dari semua hamil yang mengalami hipertensi kronis, sebesar 90% menderita hipertensi primer (essensial)/hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.
·         Penyakit ginjal
·         Dua sampai tiga kali lebih tinggi pada wanita Afrika-Amerika dibanding wanita kulit putih.tiologi
c.        Etiologi hipertensi kronik dapat dibagi menjadi :
1.       Primer (idiopatik) : 90 %
2.       Sekunder : 10%, yang berhubungan dengan penyakit ginjal, penyakit endokrin (diabetes melitus), penyakit hipertensi dan vascular
d.       Diagnosis  
Diagnosis pada hipertensi kronik bila ditemukan pada pengukuran tekanan darah ibu ≥ 140/90 mmhg sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan mencapai 20 minggu serta didasarkan atas faktor risiko yang dimiliki ibu, yaitu : pernah eklampsia, umur ibu > 40 tahun, hipertensi > 4 tahun, adanya kelainan ginjal, adanya diabetes mellitus, kardiomiopati, riwayat pemakaian obat anti hipertensi. Diperlukan juga adanya pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan laboratorium ( darah lengkap, ureum, kreatinin, asam urat, SGOT, SGPT ), EKG, Opthalmology, USG).
Dahulu direkomendasikan bahwa yang digunakan sebagai kriteria diagnosis adalah peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg, bahkan apabila angka absolut dibawah 140/90 mmhg. Kriteria ini tidak lagi dianjurkan. Namun, wanita yang mengalami peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg perlu diawasi dengan ketat.
e.        Komplikasi pada ibu dan janin
Pada wanita hamil yang mengalami hipertensi kronik terjadi peningkatan angka kejadian stroke. Selain itu komplikasi lain yang sangat mengkhwatirkan yaitu terjadinya superimposed preeclampsia dimana hal ini dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi hepar, gagal ginjal, serta tendensi timbulnya perdarahan yang meningkat dan perburukan kearah eclampsia.
Pada janin sendiri dapat terjadi bermacam – macam gangguan sampai kematian janin dimana efek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil akan merusak sistem vaskularisasi darah, sehingga mengganggu pertukaran oksigen dan nutrisi melalui plasenta dari ibu ke janin. Hal ini nin yang lambat dalam rahim, bahkan kematian janin.
f.        Penanganan Umum
         Istirahat cukup
         Mengatur diet, yaitu meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung protein dan mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat serta lemak.
         Kalau keadaan memburuk namun memungkinkan dokter akan mempertimbangkan untuk segera melahirkan bayi demi keselamatan ibu dan bayi
g.       Penatalaksanaan
1)      Risiko rendah hipertensi
         Ibu sehat dengan desakan diastolik menetap ³100 mmHg
         Dengan disfungsi organ dan desakan diastolik ³ 90 mmHg
2)      Obat antihipertensi
Alasan utama untuk mengobati hipertensi pada kehamilan adalah untuk mengurangi morbiditas ibu terkait hipertensi. Sebuah metaanalisis termasuk 28 uji acak membandingkan pengobatan dengan antihipertensi baik dengan plasebo maupun tanpa pengobatan menunjukan bahwa pengobatan dengan antihipertensi secara signifikan mengurangi hipertensi berat. Namun pengobatan tidak mengurangi resiko preeklamsia berlapis, abrupsi plasenta atau pembatasan pertumbuhan janin, juga tidak memberikan manfaat pada neonatus. Obat-obat antihipertensi kronis  yang dapat digunakan pada masa kehamilan yaitu:
a)     Metildopa, sebuah agonis reseptor alfa yang bekerja sentral, dosis sebesar 250-1500 mg dua kali perhari peroral. Metildopa sering digunakan sebagai terapi lini pertama, data jangka panjang menunjukan keamananya pada keturunan.
b)    Labetalol, yang merupakan kombinasi alfa dan beta bloker. Dosis 2x100-1200 mg peroral. Sering menjadi terapi lini pertama. Obat ini dapat memperburuk asma. Formulasi intravena tersedia untuk pengobatan darurat hipertensi.
c)     Metoprolol, sebuah beta bloker dengan dosis 2x25-200 mg peroral. Obat ini dapat memperburuk asma dan kemungkinan berhubungan dengan penghentian pertumbuhan janin. Beta bloker lainnya misal: pindolol dan propranolol dapat dipakai secara aman. Beberapa ahli merekomendasikan untuk menghindari penggunaan atenolol.
d)    Nifedipin (kerja panjang), sebuah pemblok kanal kalsium. Dosis 30-120 mg perhari. Nifedipin kerja cepat tidak direkomendasikan untuk terapi ini, mengingat kemungkinan resiko hipotensi. Pemblok kanal kalsium lainnya dapat digunakan secara aman.
e)     Hidralazin, merupakan sebuah vasodilator perifer. Dosis 50-300 mg perhari dalam dosis terbagi 2 atau 4. Sediaan hidralazin intravena tersedia untuk terapi darurat hipertensi.
f)     Hidroklorotiazid, sebuah diuretik dengan dosis 12,5-50 mg sekali perhari. Ada kekhawatiran sehubungan penggunaan obat ini, namun tidak ada data studi yang mendukung.
g)    Metildopa, sebuah agonis reseptor alfa yang bekerja sentral, dosis sebesar 250-1500 mg dua kali perhari peroral. Metildopa sering digunakan sebagai terapi lini pertama, data jangka panjang menunjukan keamananya pada keturunan.
h)     Labetalol, yang merupakan kombinasi alfa dan beta bloker. Dosis 2x100-1200 mg peroral. Sering menjadi terapi lini pertama. Obat ini dapat memperburuk asma. Formulasi intravena tersedia untuk pengobatan darurat hipertensi.
i)      Metoprolol, sebuah beta bloker dengan dosis 2x25-200 mg peroral. Obat ini dapat memperburuk asma dan kemungkinan berhubungan dengan penghentian pertumbuhan janin. Beta bloker lainnya misal: pindolol dan propranolol dapat dipakai secara aman. Beberapa ahli merekomendasikan untuk menghindari penggunaan atenolol.
j)      Nifedipin (kerja panjang), sebuah pemblok kanal kalsium. Dosis 30-120 mg perhari. Nifedipin kerja cepat tidak direkomendasikan untuk terapi ini, mengingat kemungkinan resiko hipotensi. Pemblok kanal kalsium lainnya dapat digunakan secara aman.
k)     Hidralazin, merupakan sebuah vasodilator perifer. Dosis 50-300 mg perhari dalam dosis terbagi 2 atau 4. Sediaan hidralazin intravena tersedia untuk terapi darurat hipertensi.
l)      Hidroklorotiazid, sebuah diuretik dengan dosis 12,5-50 mg sekali perhari. Ada kekhawatiran sehubungan penggunaan obat ini, namun tidak ada data studi yang mendukung.
m)   Metildopa merupakan agen antihipertensi yang paling banyak didukung dengan data penelitian tentang khasiat dan keamanan penggunaannya pada wanita hamil. Obat ini telah digunakan sejak tahun 1960-an. Dalam sebuah studi, metildopa tidal menimbulkan efek yang merugikan pada anak-anak yang dilahirkan. Karenanya metildopa sering dijadikan sebagai terapi lini pertama hipertensi pada wanita hamil. Namun, metildopa sering menyebabkan kantuk yang membatasi tolerabilitasnya.

TANGGAL / JAM     :
TEMPAT                    :
DIAGNOSA              :
NO. REGISTER         :

I.         PENGKAJIAN
A.    DATA SUBYEKTIF
1.      Identitas (Biodata)
·         Terjadi pada wanita dengan usia reproduksi yang ekstrim (usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun)
Reeder, Sharon J. 2011: 239.
2.      KELUHAN UTAMA
·         Wanita hamil mengeluh nyeri kepala hebat atau penglihatan kabur.
·         Wanita hamil menderita kejang atau kehilangan kesadaran/koma.
PONED. 2008: 5-2.
·           Bengkak pada kelopak mata dan jari-jari tangan.
·           Nyeri epigastrik.
Reeder, Sharon J. 2011: 242.
·           Pergerakan anak kadang dirasakan / berkurang / tidak ada.
Lisnawati, Lilis. 2011: 14.
3.      RIWAYAT KEHAMILAN, PERSALINAN, NIFAS YANG LALU
·         Faktor risiko terjadi pada kehamilan pertama kali (primigravida), riwayat mengalami preeklampsia sebelumnya.
Rukiyah, Ai Yeyeh. 2010: 174.
·         Dapat terlihat pada multigravida yang mengalami keadaan seperti distensi uterus yang berlebihan karena janin kembar atau hidramnion.
Reeder, Sharon J. 2011: 239.
·         Peningkatan tekanan darah antepartum pada kehamilan sebelumnya, pengobata antihipertensi pada kehamilan sebelumnya, pengobatan antihipertensi pada kehamilan sebelumnya dan komplikasi antepartum terkait dengan preeklampsia pada kehamilan sebelumnya.
Lisnawati, Lilis. 2011: 14.
·         Cara dan hasil akhir pada persalinan sebelumnya.
Lisnawati, Lilis. 2011: 14.
4.      RIWAYAT MENSTRUASI
-          Menarche : umumnya sekitar 12-16 tahun.
-          Siklus       : biasanya sekitar 23-32 hari.
-          Volume    : berapa kali ganti pembalut.
-          Keluhan    : mengalami beberapa gejala saat menstruasi seperti nyeri menstruasi, pening sampai pingsan, jumlah darah yang banyak.
Sulistyawati, Ari. 2009: 112.
-          HPHT dan Taksiran Persalinan
Lisnawati, Lilis. 2011: 13.
5.    POLA ELIMINASI
-            Menurunnya aliran darah ke ginjal akibat hipovolemia sehingga terjadi oliguria bahkan anuria.
Prawirohardjo, Sarwono. 2012: 538.
-            Oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500 cc/24 jam.
Prawirohardjo, Sarwono. 2012: 545.
-            Kerusakan sel glomerulus mengakibatkan meningkatnya permeabilitas membran basalis sehingga terjadi kebocoran dan mengakibatkan proteinuria.
Prawirohardjo, Sarwono. 2012: 538.
-            Proteinuria lebih 5 gram/24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif.
Prawirohardjo, Sarwono. 2012: 545.
6.    RIWAYAT PENYAKIT KETURUNAN
Adakah riwayat penyakit seperti penyakit pembuluh darah, termasuk hipertensi kronis esensial dan diabetes melitus, penyakit ginjal kronis.
Reeder, Sharon J. 2011: 239.
B.     DATA OBYEKTIF
1.      PEMERIKSAAN UMUM
a.       Keadaan umum
Ibu dalam keadaan baik apabila ibu memperlihatkan respon yang baik bagi lingkungan sekitar dan orang lain, serta dalam keadaan lemah bila tidak memperlihatkan respon yang baik pada lingkungan sekitar dan orang lain.
Sulistyawati, Ari. 2009: 121
b.      Kesadaran
Ibu dalam keadaan sadar (composmentis) atau coma?
Sulistyawati, Ari. 2009: 122.
c.       Tanda tanda Vital
o   Nilai tekanan darah yang abnormal (tekanan sistolik dan diastolik mengalami peningkatan) dapat mengindikasikan adanya keadaan preeklampsia.
Reeder, Sharon J. 2011: 242.
o   Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah distolik ≥ 110 mmHg.
Prawirohardjo, Sarwono. 2012: 545.
d.      Berat Badan Sekarang
Peningkatan berat badan > 1 kg dalam satu minggu atau sebanyak 3 kg dalam 1 bulan maka perlu dicurigai adanya preeklampsia.
Reeder, Sharon J. 2011: 242.
2.      PEMERIKSAAN KHUSUS
1)      Kepala: Sakit kepala biasanya dirasakan pada bagian frontal dan oksipital; buruk saat berdiri.
Medforth, Janet, et al. 2012: 309.
2)      Mata: gangguan penglihatan misalnya, cahaya silau, skotomata, fotofobia.
Medforth, Janet, et al. 2012: 309.
3)      Wajah: Adakah edema pada wajah (edema umum tidak dinilai sebagi tanda gejala).
Medforth, Janet, et al. 2012: 309.
4)      Abdomen: nyeri epigastrik yang kemungkinan disebabkan oleh edema hati dan peregangan kapsula, terjadi mual, muntah, dan perasaan tidak sehat secara umum, nyeri tekan pada fundus mengindikasikan abrupsio, nyeri tekan hepatik mengindikasikan perburukan kondisi, kehilangan darah melalui pervaginam, dan kontraksi uteri mengindikasikan persalinan.
Medforth, Janet, et al. 2012: 309.
5)      Ekstremitas
Edema tekan pada tungkai (pretibia) atau tangan.
Rukiyah, Ai Yeyeh, Lia Yulianti. 2010: 175.
3.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.       Proteinuria lebih 5 gram/24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif.
Rukiyah, Ai Yeyeh, Lia Yulianti. 2010: 175.
b.    Haemoglobin (Hb): jumlah Hb yang rendah mengindikasikan anemia.
c.    Sel darah putih: jumlah yang tinggi mengindikasikan stimulasi sistem imun dan dapat menunjukkan adanya infeksi.
d.   Trombosit, trombin, protombin: mengindikasikan waktu pembekuan plasma.
e.    FDP (Fibrinogen Degradation Product): mendeteksi pemecahan fibrin dan dapat menunjukkan trombisis.
f.     Urea dan elektrolit: mengindikasikan fungsi ginjal karena product sisa metabolisme di ekskresi melalui ginjal.
g.    Kreatinin: meningkat ketika filtrasi darah oleh glomerolus di ginjal terganggu.
Medforth, Janet, et al. 2012: 309.

II.                DIAGNOSA
a.       Diagnosa: G....P......dengan HDK
Lisnawati, Lilis. 2011: 14.
III.             MELAKUKAN PENATALAKSANAAN PADA HDK
1.      Memantau tekanan darah setiap 15 menit.
Medforth, Janet, et al. 2012: 310.
2.      Memantau kontraksi uterus .
Medforth, Janet, et al. 2012: 312.
3.      Memantau denyut jantung janin secara kontinyu.
Reeder, Sharon J. 2011: 249.
4.      Mengukur saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan dengan menggunakan oksimeter nadi.
Medforth, Janet, et al. 2012: 311.
5.      Berikan terapi antihiertensi.
Reeder, Sharon J. 2011: 244.
6.      Memantau keluaran urine, reflek tendon, dan frekuensi pernapasan sebelum, selama, dan setelah pemberian MgSO4 setiap 6 jam.
Reeder, Sharon J. 2011: 249.
7.      Memberikan terapi antihipertensi ketika tekanan darah diastolik melebihi 100-110 mmHg.
Reeder, Sharon J. 2011: 245.
8.      Menganjurkan ibu untuk mengubah posisinya secara mandiri dengan sering miring ke kiri.
Reeder, Sharon J. 2011: 249.
9.      Menganjurkan untuk menarik napas dalam dan menggerakkan kaki.
Medforth, Janet, et al. 2012: 312.
10.  Menciptakan lingkungan rumah sakit yang terapeutik.
Reeder, Sharon J. 2011: 249.
11.  Menganjurkan pasien untuk diet sesuai yang telah diprogramkan.
Reeder, Sharon J. 2011: 249.
12.  Memberikan terapi sesuai dengan advice dokter



Manajemen Kebidanan
Model asuhan kebidanan yang digunakan adalah menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 369 tahun 2007 yang kerangka pikirnya mengacu pada manajemen asuhan kebidanan menurut Hellen Varney, 1997. Manajemen Kebidanan mengamati atau mengobservasi satu pasien/klien dalam waktu tertentu serta di dokumentasikan dengan SOAP.




DAFTAR PUSTAKA

JNPK-KR. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).

Prawirohardjo, Sarwono. 2012. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo Edisi 4 Cetakan 2. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifuddin, Abdul Bari. 2011. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta: ANDI

Rukiyah, Ai Yeyeh, Lia Yulianti. 2010. Asuhan Kebidanan 4 Patologi Kebidanan. Jakarta: TIM

Reeder, Sharon J. 2011. Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi, & Keluarga Edisi 18 Volume 2. Jakarta: EGC.

Lisnawati, Lilis. 2011. Buku Pintar Bidan Aplikasi Penatalaksanaan Gawatdarurat Kebidanan di Rumah Sakit. Jakarta: TIM.

Medforth, Janet, et al. 2012. Kebidanan Oxford dari Bidan untuk Bidan. Jakarta: EGC.

Feryanto, Ahmad, Fadlun. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika.

WHO. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: UNFPA, UNICEF, USAID.



FORMAT ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN (INC)
PENGKAJIAN
Tanggal           :27 -9-2016
No. RM           : 25 44 28
Nama               : Ny W
Umur               : 27 th
Agama             : Islam
Pendidikan      : tidak sekolah
Pekerjaan         : ibu rumah tangga
Alamat                        : Ngadiluwih

Jam                  :09.00 wib

Nama Suami    :
Umur               :
Agama             :
Pendidikan      :
Pekerjaan         :
Alamat                        :

Cara masuk     :
            Datang Sendiri                        Rujukan dari   : BPM I
A.    DATA SUBYEKTIF
1.      Keluhan utama : kenceng – kenceng sejak tadi malem
2.      Riwayat menstruasi
§  Usia manarche             :
§  Jumlah darah haid       : 
§  HPHT                          :
§  Keluhan saat haid        :
§  Lama haid                   :
§  Flour albus                   :
§  TP                                :
§  Keluhan haid               :
             Disminorhoe               Spoting            Menorrhagia                Premenstrual syndrome
Dll..............
3.      Riwayat hamil ini
§  Hamil muda :
Mual                Muntah            Perdarahan                  Lain-lain(isi sesuai keluhan)
§  Hamil tua    :
Pusing             Sakit                Kepala Perdarahan      Lain-lain(isi sesuai keluhan)
§  Riwayat imunisasi  :           TT1      TT2      TT3      TT4      TT5
§  Gerakan janin pertama (tidak tahu).bulan
§  Gerakan janin terakhir  barusan
§  Tanda bahaya dan penyulit kehamilan
§  Obat/jamu yang pernah dan sedang di konsumsi keluarga mengatakan tidak tahu
§  Keluhan BAK: tidak                                  Keluhan BAB : tidak
§  Kekhawatiran khusus :  px mengalami gangguan bicara  sejak kecil sehingga sulit diajak komunikasi
4.      Riwayat kehamilan,persalinan, dan nifas yang lalu.
GII.p 1 A 0Hidup 1

NO.
Tgl, Th partus
Tempat partus
Umur kehamilan
Jenis Kelamin
Penolong persalinan
Penyulit
Anak JK/BB
Keadaan anak sekarang
1

rumah
9 bulan
ibu

Hidup usia 7 thn

5.      Riwayat kesehatan penyakit yang pernah diderita :
¨  Anemia
¨  Hipertensi
¨  Kardiovaskular
¨  TBC
¨  Diabetes
¨  Malaria
¨  IMS (Sphilis, GO, HIV/AIDS, dll)
¨  Lain-lain (tidak tahu)
Pernah dirawat       : ya/tidak         Kapan : ...........................        Dimana :.................
Pernah dioperasi     : ya/tidak         Kapan : ...........................        Dimana :.................

6.      Riwayat penyakit keluarga (Ayah, Ibu, Mertua) yang pernah menderita sakit : tidak terkaji

7.      Status perkawinan : ya/tidak(tidak jelas)
Kawin 1kali, kawin usia 29 tahun, lama menikah  tidak tahu

8.      Riwayat psiko sosial ekonomi
-    Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan
Keluarga merespon baik dengan kehamilan ibu ibu di rawat dengan baik
Ibu
-    Penggunaan alat kontrasepsi KB
Tidak pernah
-    Dukungan keluarga
Keluarga mengantar ibu ke rumah sakit, keluaga membelikan makan dan minum ibu
-    Pengambilan keputusan dalam keluarga
Karena anak yang di kandung ibu adalah anak hasil perkosaan keluarga berharap setelah ibu melahirkan ibu langsung KB
-    Kebiasaan hidup sehat
Px mandi 2 kali sehari, gosok gigi dan melakukan perawatan sehari - hari
-    Beban kerja sehari
Tidak ada
-    Tempat dan penolong persalinan yang diinginkan
Tidak tahu
-    Penghasilan keluarga
Tidak dikaji
9.      Riwayat KB dan rencana KB
Metode yang pernah dipakai  :  tidak tahu  Lama :   tidak tahu  bulan/tahun
Komplikasi dari KB                : ..................................., Rencana KB selanjutnya:  keluarga menyarankan MOW

10.  Riwayat Ginekologi    :
Infertilitas       Infeksi virus                PMS                            Endometritis
Polip serviks    Kanker kandungan      Operasi kandungan     Perkosaan
            DUB               dll........................

11.  Pola makan / minum/ eliminasi/ istirahat
-    Pola makan : 3 kali sehari
-    Pola minum     : 7 gelas/hari    Pola eliminasi  :lancar
BAK.200 cc/hari, warna : jernih/kuning/kuning pekat/ groshematuri, BAK terakhir jam :09.10 WIB
BAB 1kali/hari, karakteristik: lembek/keras, BAB terakhir jam :06.00 wib
-    Pola istirahat   : 7- 8 jam/hari, tidur terakhir jam : 21.00 – 02.00 wib
-    Dukungan keluarga :     Suami            Orang tua        Mertua             Keluarga lain
-    Pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan (perubahan fisik & psikologis, ketidaknyamanan dan cara mengatasi,kebutuhan bumil, tanda bahaya kehamilan, tanda-tanda persalinan dsb)
Dalam kehamilan ini pasien tidak mempunyai suami, pasien baru tinggal di rembang – kepuh RT 02 RW 10 kec. Ngadiluwih ±  1 bulan ini diantar oleh ayahnya ke rumah bibinya, alamat asli pasien adalah di Sumatera, pasien merupakan korban pemerkosaan

B.     DATA OBYEKTIF
1.      Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik                         Kesadaran       :CM
BB/TB             : 56 kg                         Tekanan Darah: 160/110 mmhg
Nadi                : 82 x/menit                 Suhu                : 36,2
Pernafasan       : 20 x/menit
2.      Pemeriksaan Fisik
-    Mata         : Konjungtiva : anemis/tidak              Selera  : Ikterik/tidak
Pandangan Kabur            tidak   Adanya pemandangan dua tidak      
-    Rahang, gigi, gusi: normal/tidak, gusi berdaarah/ tidak
-    Leher        : adanya pembesaran vena jugularis / tidak, adanya pembesaran kelenjar thyroid/tidak.
-    Dada        :           aerola hiperpigmentasi             Tumor              Kolostrum
            Puting susu menonjol/masuk ke dalam          
-    Axilla       : tidak ada pembesaran kelenjar limfe ka/ki
-    Sistem respiratori :           dispneu            tachipneu         wheezing         batuk
-    Sistem kardio       :           Nyeri dada      murmur            palpitasi
-    Pinggang              :nyeri/tidak, skoliosis, lordosis, kiposis
-    Ekstremitas atas dan bawah:        tungkai simetris/asimetris        oedema
Reflek patella              varises

3.      Pemeriksaan  khusus
a.       Abdomen
Inspeksi           membesar dengan arah memanjang                melebar
                        Pelebur vena                linea alba         linea agra         strie livide
                        Strie albican                luka bekas operasi                   lain-lain
Palpasi : Leopold I 3 jr bawah px, kepala
               Leopold II puka
               Leopold III Kepala sudah masuk pap
               Leopold IV kepala masuk pap 4/5 bag (konvergen)
               TFU (Mcdonald) 27.cm
TBJ      : 2325 gram
Auskultasi : BJJ 140 x/mnt, reguler / irreguler
His/kontraksi : 2x 25 detik
b.      Ginekologi
Ano genital
Inspeksi           : pengeluaran pervagina  blood slem condiloma : ada / tidak
Inspekulo        : vagina bloodslem tidak ada luka , portio : lunak, licin, tidak terdapat luka, servik sudah mulai membuka, dan tidak terdapat jaringan plasenta/ bagian kecil janin.
Vaginal toucher : 2 cm eff 20 % ketuban(+) presentasi.kepala denominator  UUK kadep hodge I kesan panggul : normal / PSR /PSA
1.      Pemeriksaan laboratorium       :
-    Laboratorium lengkap dilakukan di UGD (Golda, DL, HbsAg, VCT, Faal Hati (SGOT/SGPT), faal ginjal (BUN/SC))
-    CTG            : janin................reaktif/tidak
-    USG            : ...........................................
-    Foto thorak : ............................................
-    EKG            : ............................................
  1. ANALISA / INTEPRETASI DATA
GII P1001 A/T/H dengan HDK kala 1 fase laten dan kelainan congenital Apasia motorik
  1. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 27 -09 – 2016                                  Jam : 09.10 WIB
1.      Menganjurkan ibu untuk kencing di kamar mandi dan memasukkan urine di dalam botol
Ibu kencing di kamar mandi dan memasukkan urine ke dalam botol jam 09.15 urine di bawa ke laboratorium
Hasil proteinurine ±
2.      Memantau tekanan darah setiap 15 menit.
T : 150/110 mmHg jam 09.10 WIB, Jam 09.35 WIB T 160/110 mmHg
3.      Memantau kontraksi uterus
HIS : 2x 25 detik dalam 10 menit
4.      Memantau denyut jantung janin secara kontinyu.
DJJ : 138 x/menit
Lapor DSOG dan memberi advice
1.      MRS
2.      Pasang infuse RL
3.      Injeksi diazepam 1 amp
4.      Injeksi antibiotic 3 x 1
5.      Memasang infuse RL dan mengambil darah untuk di periksa DL, ,HbsAg, Alb, Kimia
6.      Memberikan terapi obat antikejang diazepam sesuai advice dokter
Diasepam disuntikkan jam 09.35 WIB secara IM kemudian memantau detak jantung janin 135 x/menit
7.      Menganjurkan ibu untuk mengubah posisinya secara mandiri dengan sering miring ke kiri
Ibu miring ke kiri
8.      Menganjurkan untuk menarik napas dalam dan menggerakkan kaki
Bila HIS ibu menarik nafasnya dari hidung dan menghembuskan nafasnya dari mulut
9.      Menciptakan lingkungan rumah sakit yang terapeutik.
10.  Memindahkan pasien ke kamar bersalin jam 10.40 Wib



Pembimbing Lahan



……………………
                 NIP
Kediri,
Mahasiswa



……………………
NIM           
Pembimbing Lahan



……………………
                                                  NIP




BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan pada Ny. “W” GII P1001 A/T/H dengan HDK kala 1 fase laten dan kelainan congenital Apasia motorik
penulis menemukan keselarasan antara teori yang ada dengan kasus yang terjadi di Rumah Sakit. Hal tersebut penulis jabarkan dalam pembahasan ini.
Dari pengkajian yang dilakukan pada Ny. W didapatkan bahwa Ny. S berumur 37 tahun sedang hamil anak kedua. Usia kehamilan Ny.  W tidak diketahui Haid terakhirnya tetapi pada saat melakukan palpasi dan pengukuran TFU bisa diketahui bahwa kehamilan Ny. W termasuk kehamilan aterm (cukup bulan). Ny. W mengalami apasia motorik sejak bayi yaitu kelainan kongenital yang berakibat mengalami gangguan bicara(bicara tidak normal) Ny. W bisa mendengar pembicaraan orang lain
Asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny. S meliputi :
1.         T1 (Timbang Berat Badan Dan Ukur Tinggi Badan)
Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu sebelum dan sesudah hamil, dihitung mulai dari trimester I sampai trimester III yang berkisar 9-13,5 kg. Kenaikan berat badan setiap minggu pada kehamilan trimester III yang tergolong normal adalah 0,4-0,5 kg. (Mandriawati, 2011 : 37)
Pengukuran tinggi badan ibu hamil dilakukan untuk mendeteksi faktor resiko terhadap kehamilan yang sering berhubungan dengan keadaan rongga panggul. (Mandriawati, 2011 : 43)
Asuhan kebidanan yang dilakukan penulis pada Ny. S adalah menimbang berat badan yang hasilnya adalah selama hamil meningkat 10 kg dari sebelum hamil (55 kg menjadi 65 kg), dari kunjungan pertama sampai kunjungan kedua yang dilakukan oleh mahasiswa didapatkan hasil penambahan berat badan sbanyak 1 kg. Sedangkan untuk tinggi badan Ny. S 160 cm. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan kepada Ny. S tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek, dimana tinggi badan Ny. S 160 cm dan penambahan berat badan Ny. S selama hamil meningkat 10 kg, dari kunjungan pertama sampai kunjungan kedua yang dilakukan oleh mahasiswa didapatkan hasil penambahan berat badan sbanyak 1 kg,  hal ini adalah normal.
2.         T2 (Tekanan Darah)
Tekanan darah yang tinggi dalam kehamilan merupakan sebuah resiko. Tekanan darah dikatakan tinggi bila lebih dari 140/90 mmHg atau lebih, dan diastolic 15 mmHg atau lebih dapat berlanjut menjadi preeklampsi dan eklampsi.(Mandriwati, 2011:117)
Asuhan yang dilakukan penulis didapatkan hasil tekanan darah pada Ny. S pada kunjungan ANC pertama kali 110/70 mmHg dan pada kunjungan ANC kedua 110/70 mmHg.
Pada kasus Ny. S dengan sistol 110 mmHg dan diastol 70 mmHg. Tekanan darah dikatakan tinggi bila tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg pada saat awal pemeriksaan dapat mengindikasikan potensi hipertensi dan membutuhkan pemantauan ketat selama kehamilan.
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. S tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek dimana tekanan darah Ny. S 110/70 mmHg, hal ini adalah normal.
3.         T3 (Status Gizi)
Nilai status gizi ibu dilihat dari peningkatan berat badan ibu dan kecukupan istirahat ibu, serta dilihat dari LILA Ibu. Jika  LILA kurang dari 23,5 cm beresiko untuk melahirkan anak Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). (Mandriawati, 2011:117).
Ibu hamil harus makan makanan yang bergizi, seperti karbohirat, protein, mineral, supaya bayi tidak kekurangan energi kalori. Untuk mengetahui Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan rumus :
IMT = Berat Badan (kg) / Tinggi Badan (cm) /100) 2
Nilai status gizi Ny. S didapat lingkar lengan atas ibu 25 cm, adapun indeks massa tubuh Ny.S didapat 25. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. S tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek dimana LILA 25 cm dan IMT 25, hal ini adalah normal.
4.         T4 (Tinggi Fundus Uteri)
Tujuan pemeriksaan TFU menggunakan tekhnik Mc Donald adalah menentukan umur kehamilan berdasarkan minggu, dan hasilnya bisa dibandingkan dengan hasil anamnesis Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) dan kapan gerakan janin mulai dirasakan. TFU dalam sentimeter (cm) yang normal harus sama dengan umur kehamilan dalam minggu ynag ditentukan berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). (Mandriwati, 2011:88)
Hasil pengukuran tinggi fundus uteri terakhir pada Ny. S adalah 31 cm. TFU lebih dari 40 cm dilakukan rujukan karena termasuk dalam 20 penapisan. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. S tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek dimana TFU 31 cm, hal ini adalah normal.
5.         T5 (Presentasi Janin dan DJJ)
Dilakukannya pemeriksaan presentasi janin, yaitu untuk mengetahui bagian terendah janin. Dilakukannya pemeriksaan DJJ yaitu untuk mengetahui apakah bayi dalam keadaan sehat, bunyi jantungnya teratur dan frekuensi berkisar antara 120 – 160 kali/ menit. Kalau bunyi jantung kurang dari 120 kali/ menit atau lebih dari 160 kali/ menit atau tidak teratur, janin dalam keadaan asfiksia (kekurangan oksigen) yang disebut gawat janin. (Mandriawati, 2011:107).
Dari pengkajian yang dilakukan pada Ny.S didapatkan bahwa presentasi janin  kepala, denyut jantung janin  berkisar 140x/menit. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. S tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek dimana DJJ berkisar 140x/menit, hal ini adalah normal.
6.         T6 (Imunisasi TT)
       Imunisasi berasal dari kata imun yang artinya kebal, Imunisasi artinya kekebalan. Pemberian imunisasi tetanus toksoid artinya pemberian kekebalan terhadap penyakit tetanus kepada ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. Sehingga pada saat melahirkan ibu dan bayi terhindar dari penyakit tetanus. Pemberianimunisasi tetanus toksoid setidaknya dilakukan 2 kali selama hamil. (Mandriwati, 2011:147)      
Penulis tidak melakukan memberikan imunisasi TT karena ibu sudah mendapatkan imunisasi TT sebanyak 2 kali. TT 1 pada tanggal 02-04-2013 dan TT 2 pada tanggal 12-06-2013.
Pada kasus Ny. S sudah mendapatkan imunisasi TT dua kali, hal ini bagus karena Ny. S sudah mengikuti prosedur yang ada dan dapat mencegah resiko bayi Ny. S terkena penyakit tetanus pada bayi baru lahir.
Berdasarkan pengkajian yang tela dilakukan pada Ny. S tidak adakesenjangan antara teori dan praktek dimana Ny. S sudah mendapatkan imunisasi TT sebanyak dua kali, hal ini adalah normal.
7.         T7 (Tablet zat besi)
Standar selama hamil ibu harus mendapatkan tablet zat besi 90 Fe. Minum 1 tablet tambah darah secara teratur setiap hari selama hamil. Dimulai dengan memberikan 1 tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 µg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi karena akan mengganggu penyerapan (Saifuddin, 2009 : 91).
       Pada kasus Ny. S didapati kadar Hb yang normal yaitu 11,8 gr%, karena Ny. S rutin mengkonsumsi tablet zat besi, dengan kadar Hb yang normal dapat mencegah persalinan prematur, berat badan lahir bayi rendah dan resiko perdarahan pada pospartum.
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. S tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek, dimana kadar Hb 11,8 gr% setelah rutin mengkonsumsi tablet zat besi, hal ini adalah normal.
8.         T8 (Tes penyakit menular)
Pemeriksaan terhadap penyakit menular seksual sangat penting karena dapat membahayakan perkembangan janin bahkan kematian janin. (Mandriawati, 2011:165)
       Dilakukan tes penyakit menular karena adanya indikasi yang mengarah pada hal tersebut, misalnya rasa gatal yang sangat hebat di daerah sekitar kelamin, keputihan yang berbau busuk, timbul kutil yang seperti jengger ayam.
Pada kasus Ny.S tidak dilakukan tes penyakit menular seksual karena tidak ada indikasi yang mengarah pada hal tersebut.
9.         T9  (Tata Laksana Kasus)
Tata laksana kasus dilakukan untuk mendeteksi apakah terdapat kegawatdaruratan pada ibu hamil serta merencanakan penatalaksanaan kegawatdaruratan tersebut. (Mandriawati, 2011:165)
Dari hasil asuhan pada Ny. S yang dilakukan oleh penulis, Ny. S dan janin dalam keadaan baik, tidak ada keluhan lain yang mengarah pada tanda bahaya. Hanya saja ibu merasakan ketidaknyaman terhadap perubahan dirinya yaitu pada umur kehamilan 37 minggu ibu merasa sering BAK. Hal tersebut merupakan hal yang fisiologis karena sering BAK disebabkan karena kepala janin mulai turun kebawah pintu atas panggul sehingga menekan kandung kemih sehingga sering timbul rasa ingin BAK, Ny. S dianjurkan untuk menjaga personal hygine. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. S tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek dimana Ny. S merasakan ketidaknyamanan sering BAK pada kehamilan aterm, hal ini adalah normal.
10.     T10 (Temu wicara)
Temu wicara/konseling sangat diperlukan karena untuk memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan kehamilannya, pemahaman diri tentang permasalahan yang sedang dihadapi, dan penyusunan rencana pemecahan masalah yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tujannya untuk mengarahkan perilaku yang tidak sehat menjadi sehat, membimbing klien belajar mengambil keputusan, membimbing klien mencegah timbulnya masalah. (Mandriawati, 2011:165)
Temu wicara pada Ny. S dilakukan untuk menerangkan pada ibu mengenai ketidaknyamanan yang dirasakan oleh ibu seperti sering BAK pada kehamilan aterm, persiapan persalinan serta rujukan apabila terdapat komplikasi.
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. S tidak adakesenjangan antara teori dengan praktek dimana Ny. S merasakan ketidaknyamanan pada kehamilannya seperti sering BAK karena pada kehamilan cukup bulan terdapat penurunan bagian terbawah janin sehingga menekan kandung kemih, hal ini adalah normal.


BAB V
PENUTUP
5.1  Kesimpulan
Setelah menyusun asuhan kebidanan pada bayi Ny. W GII P1001 dengan PEB, mahasiswa mampu:
1.      Melakukan pengkajian data
2.      Mengidentifikasi diagnose dan masalah
3.      Menganalisa diagnosa
4.      Melakukan penatalaksanaan
5.2  Saran
5.2.1        Bagi Mahasiswa
Hendaknya mampu menerapkan pengetahuan yang diterima di bangku kuliah dengan kasus yang ditemui di lapangan sehingga dapat memberikan asuhan yang menyeluruh pada klien.
5.2.2        Bagi Lahan Praktek
Hendaknya lebih meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kepada klien agar terpenuhi pelayanan yang sesuai kebutuhan klien dan terjadi peningkatan cakupan pelayanan.
5.2.3        Bagi Institusi Pendidikan
Hendaknya lebih memberikan arahan dan bimbingan pada peserta didik dalam melaksanakan praktek di lapangan.
.