Selasa, 30 September 2014

ASKEB IUD CUT 380 A

Laporan Pendahuluan
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

I.              Pengertian
a.       Alat kontrasepsi dalam rahim adalah bahan insert sintetik (dengan atau tanpa unsur tambahan untuk sinergi efektifitas) dengan berbagai bentuk yang di pasangkan ke dalam rahim.
(Prawirohardjo,Sarwono.2008)
b.      Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya bermacam – macam, terdiri dari plastik, ada yang dililit tembaga (CU), ada pula yang dililit tembaga bercampur perak (Ag) selain itu ada pula yang dibatangnya berisi hormon progesteron.
(Hartanto,Hanafi. 2002)
II.            Tempat melakukan pemasangan IUD
Pemasangan IUD dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih untuk itu, pemasangan IUD dapat dilakukan di
a.       Puskesmas
b.      Rumah sakit/Rumah bersalin
c.       Dokter /Bidan praktek swasta
d.      Posyandu yang ada pelayanan IUD
(Bari, Abdul Saifuddin.2006)
III.         Waktu penggunaan
a.       2 – 4 hari setelah melahirkan.
b.      40 hari setelah melahirkan.
c.       Setelah terjadinya keguguran, apabila tidak ada gejala infeksi.
d.      Hari pertama sampai ke 7 siklus haid.
e.       Selama 1 – 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.

IV.        Jenis – jenis AKDR
a.       Lippes loop, berbentuk spiral
Ada 4 macam jenis lippes loop :
1.      lippes loop A : panjang 26,2 mm,  lebar 22,2 mm, benang biru, satu titik pada pangkal IUD dekat benang ekor
2.      lippes loop B   : panjang 25,2 mm, lebar 27, 4 mm, 2 benang hitam bertitik 4.
3.      lippes loop C   : panjang 27, 5 mm, lebar 30,0 mm, 2 benang kuning bertitik 3
4.      lippes loop D   : panjang 27,5 mm, lebar 30, 0 mm, 2 benang putih bertitik 2.
Lippes loop dapat dibiarkan in utero untuk selama – lamanya sampai menopause, sepanjang tidak ada keluhan atau persoalan bagi akseptornya.
b.      Copper IUD
1.      CUT 380 A    
-          Panjang 36 mm, lebar 32 mm, kawat CU pada batang vertikal, 2 selubung CU seluas masing – masing 35 mm 2  pada masing – masing lengan horizontal.
-          Daya kerja 8 tahun
-          Cara insersi Widrawal
2.      CUT 200        
-          Panjang 36 mm, lebar 32 mm, mengandung 200 mm 2 CU
-          Daya kerja 3 tahun
-          Cara insersi Widrawal
3.      CUT 320
-          Panjang 36 mm, lebar 32 mm, 220 mm 2 CU di dalam tubuh selubung.
-          Daya kerja 3 tahun
4.      CUT 380 Ag
-          Seperti CUT 380 A, hanya dengan  tambangan inti Ag di dalam kawat CU nya.
-          Daya kerja 5 tahun
c.       Nova T
-          Panjang 32 mm, lebar 32 mm, 200 mm 2 luas permukaan CU nya dengan inti Ag di dalam kawat CU nya
-          Daya kerja 5 tahun
-          Pemasangan Widrawal
( Hartanto, Hanafi. 2002)

V.                Cara kerja AKDR
1.      Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
2.      Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum sampai mencapai kavum uteri.
3.      Mencegah sperma dan ovum bertemu walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan untuk fertilisasi.
4.      Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

VI.              Indikasi
Yang dapat menggunkan IUD adalah
1.      Usia reproduktif
2.      Keadaan nulipara
3.      Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang.
4.      Setelah melahirkan
5.      Menyusui dan menginginkan menggunakan kontrasepsi
6.      Setelah abortus dan tidak terjadi infeksi
7.      Resiko rendah dari IMS
8.      Tidak menginginkan metode hormonal
9.      Tidak menyukai untuk mengingat – ingat minum pil setiap hari.
10.  Tidak menginginkan kehamilan setelah 1 – 5 hari senggama (sebagai kontrasepsi darurat)
Pada umumnya ibu dapat menggunakan AKDR CU dengan aman dan efektif AKDR dapat juga digunakan oleh ibu dengan segala kemungkinan keadaan, misalnya :
1.      Perokok.
2.      Pasca kegagalan kehamilan (abortus)
3.      Sedang memakai obat antibiotika atau anti kejang
4.      Gemuk ataupun kurus dan sedang menyusui.

Atau pada ibu dengan keadaan seperti dibawah ini :
1.      Penderita tumor jinak payudara.
2.      Penderita kanker payudara.
3.      Pusing – pusing ataupun sakit kepala.
4.      Tekanan darah tinggi
5.      Varises pada tungkai
6.      Penderita penyakit jantung
7.      Pernah menderita stroke
8.      Penderita diabetes
9.      Penderita penyakit kuning atau empedu
10.  Malaria
11.  Penyakit tyroid
12.  Epilepsi
13.  Setelah kehamilan ektopik.
(Bari,Abdul saifuddin. 2006)

VII.          Kontraindikasi
Yang tidak diperkenankan untuk menggunakan AKDR adalah
1.      Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)
2.      Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya (sampai dapat dievaluasi)
3.      Sedang mendapat infeksi genetal
4.      Kelainan bawaan uterus yang abnormal dan tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi cavum uteri.
5.      Penyakit trofoblas yang ganas.
6.      Penderita TBC pelvik
7.      Kanker alat genital
8.      Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
(Bari,Abdul saifuddin. 2006)

VIII.       Efektifitas IUD
AKDR merupakan salah satu alat kontrasepsi yang paling efektif tergantung modelnya. Angka kehamilan untuk beberapa jenis AKDR berfariasi  antara kurang dari 1 sampai 5 per 100 wanita per tahun. AKDR  bertembaga atau yang mengandung obat pada umumnya lebih efektif dibandingkan AKDR paos. Angka kehamilan pada lippes loop D misalnya mencapai 4 – 5 % sedang untuk T.CU 380 A kurang dari 1 per 100 wanita pertahun. Kehamilan dapat terjadi sewaktu AKDR masih ditempat atau karena ekspulsi yang tidak diketahui atau karena tejadi translokasi. IUD sangan efektif, efektifitasnya  92 – 94 % dan tidak perlu diingat setiap hari seperti pil.
                                                                                              (Hartanto, Hanafi.2002).

IX.             Keuntungan dan kerugian kontrasepsi IUD/AKDR
A.    Keuntungan
1.      Sebagai kontrasepsi efektifitasnya tinggi
Sangat efektif 0,6 – 0,8 kehamilan/ 100 perempuan dalam 1 tahun pertama.
2.      AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
3.      Metode jangka panjang
4.      Sangat efektif karena tidak perlu mengingat ingat
5.      Tidak mempengaruhi hubungan seksual
6.      Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut hamil
7.      Tidak ada efek samping hormonal kecuali AKDR dengan hormon progesteron
8.      Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
9.      Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus.
10.  Dapat digunakan sampai menopause.
11.  Tidak ada interaksi dengan obat – obatan
12.  Membantu mencegah kehamilan ektopik.
(Bari, Abdul saifuddin.2006)
B.     Kerugian
·         Efek samping yang umum terjadi
-          Perubahan siklus haid (pada umunya 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan)
-          Haid lebih lama dan banyak.
-          Perdarahan (spotting) diantara menstruasi
-          Saat haid lebih sakit
-          Gangguan pada suami saat melakukan hubungan
·         Komplikasi lain
-          Merasakan kejang dan sakit selama 3 – 5 hari setelah pemasangan
-          Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang menyebabkan anemia.
-          Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar)
·         Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
·         Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti – ganti pasangan.
·         Penyakit radang panggul terjadi setelah perempuan dengan IMS memakai AKDR, penyakit radang panggul dapat memicu infertilitas.
(Bari, Abdul saifuddin. 2006)

X.                Petunjuk bagi klien
1.      Kembali memeriksakan diri setelah 2 minggu pemasangan
2.      4 – 6 minggu pemasangan IUD
3.      Selama bulan pertama menggunakan IUD periksakanlah benang IUD secara rutin terutama setelah haid.
4.      Setelah 6 bulan pemasangan hanya perlu memeriksa keadaan benang setelah haid apabila mengalami :
a.       Kram / kejang di perut bagian bawah.
b.      Perdarahan (spotting) diantara haid atau senggama.
c.       Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan  mengalami tidak nyaman selama melakukan hubungan seksual.
5.      Copper T 380 A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan tetapi dapat dilakukan lebih awal apabila diinginkan.
6.      Kembali ke klinik apabila :
a.       Tidak dapat meraba benang IUD
b.      Merasakan benda yang keras dari benang IUD
c.       IUD terlepas
d.      Siklus terganggu atau meleset
e.       Terjadi pengeluaran dari vagina yang mencurigakan
f.       Adanya infeksi
XI.             Informasi umum
1.      Kemungkinan bekerja langsung efektif segera  setelah pemasangan
2.      IUD dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama beberapa bulan pertama
3.      Kemungkinan terjadinya spotting atau perdarahan beberapa hari setelah pemasangan.
4.      Perdarahan menstruasi biasanya lebih banyak dan lebih lama.
5.      Jelaskan pada klien jenis IUD apa yang digunkan, kapan akan dilepas dan berikan kartu tentang semua informasi ini.
6.      IUD tidak akan melindungi dari infeksi IMS termasuk virus apabila pemasanganya beresiko, mereka harus menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual.
(Bari, Abdul saifuddin.2006)





















Pohon Masalah

Akseptor KB
Kontrasepsi jangka panjang
IUD
1.      Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke Tuba
2.      Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
3.      Mencegah sperma dan ovum bertemu
4.      Mencegah implantasi telur dalam uterus

 






Tidak terjadi kehamilan
Keuntungan
1.      Efektifitas tinggi
2.      Efektif segera setelah pemasangan
3.      Metode jangka panjang
4.      Tidak perlu mengingat ingat
5.      Tidak mempengaruhi hubungan seksual
6.      Tidak perlu takut hamil
7.      Tidak ada efek samping hormonal
8.      Tidak mempengaruhi ASI
9.      Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau setelah Abortus
10.  Dapat dipakai sampai menopause
11.  Tidak ada interaksi dengan obat – obatan
12.  Mencegah kehamilan ektopik.
Kerugian
1.      Perforasi dinding uterus
2.      Tidak mencegah IMS
3.      Tidak dapat digunakan oleh wanita yang sering – sering berganti ganti pasangan
4.      Radang panggul dapat terjadi setelah perempuan dengan IMS memakai IUD.
5.      Merasakan kejang dan sakit 3 – 5 hari setelah pemasangan.

Kontraindikasi
1.      Sedang hamil
2.      Perdarahan pervaginam tanpa diketahui sebabnya
3.      Ada infeksi alat genital
4.      Kelainan atau tumor pada rahim.
5.      Penyakit trofoblas yang ganas
6.      Menderita TBC pelvik
7.      Kenker alat genital
8.      Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
Indikasi
1.        Usia reproduktif
2.        Keadaan nulipara
3.        Ingin kontrasepsi jangka panjang
4.        Setelah melahirkan
5.        Menyusui dan ingin kontrasepsi.
6.        Setelah abortus dan tidak ada infeksi
7.        Resiko rendah dari IMS
8.        Tidak ingin metode hormonal
9.        Tidak ingin mengingat ingat minum pil
10.    Sebagai kontrasepsi darurat
 


















AKSEPTOR BARU KB IUD
Kembali ke klinik jika :
1.      Tidak dapat meraba benang IUD
2.      Merasakan benda yang keras dari IUD
3.      IUD terlepas
4.      Siklus terganggu atau meleset
5.      Terjadi pengeluaran dari vagina yang mencurigakan
6.      Adanya infeksi.
Masalah
1.      Perubahan siklus haid
2.      Haid lebih lama, lebih banyak dan sakit
3.      Spotting diantara menstruasi
4.      Nyeri pada penis saat berhubungan seksual
Penanganan
1.      Jika perdarahan sedikit – sedikit dapat diatasi dengan pengobatan konservatif
2.      Pada perdarahan yang tidak terhenti dengan tindakan diatas, sebaiknya melakukan pengangkatan IUD
3.      Benang yang terlalu panjang dapat dipotong.

1.      Anjurkan memeriksakan diri setelah 2 minggu pemasangan.
2.      4 – 6 minggu pemasangan
3.      Memeriksa benang secara rutin selama bulan pertama pemasangan IUD
4.      Anjurkan kembali lagi bila ada keluhan
 














                                                                                                                    

















II.  Diagnosa, masalah, kebutuhan
Dx       : Ny......P..... Akseptor.... dengan KB IUD.....
Ds        : ibu mengatakan ingin menggunakan kontrasepsi jangka panjang
Do       :           Ku ibu            : baik
                        Kesadaran       : composmetis
                        Emosional       : stabil
                        TTV     :    TD : 110/70 – 120/ 80 mmHg
                                           N : 80 – 100 X/menit
Mata. Konjungtiva      : merah muda ka/ki
Pemeriksaan fisik
-          Ada benjolan atau tidak pada payudara ka/ki
-          Ada pembesaran atau tidak pada Abdomen
-          Ada vaginitis atau vulvitis atau infeksi pada alat genital
Pemeriksaan dalam
-          Tanda kehamilan                           : ada / tidak
-          Infeksi, tumor, pembengkakan     : ada / tidak
-          Gerak cervix                                  : bebas atau tidak
-          Bentuk uterus                                : ante atau retrofleksi
Inspekulo       
-           Ada erosi porsio atau tidak
-          Ukuran uterus  > 5 cm
-          Ada tanda radang atau tidak
III.  Diagnosa dan masalah potensial
                   -
IV. Identifikasi kebutuhan segera
V. Intervensi
       Dx       : Ny... P..... Akseptor lama/baru Kb IUD CUT 380 A
       Tujuan : ibu dapat memakai Kb IUD CUT 380 A tanpa komplikasi
       KH        :  - Mulai dari pemasangan sampai selesai tidak ada penyulit
-          Kehamilan dapat dicegah


Intervensi :
1.      Lakukan pendekatan terapeutik dengan klien
R/  meningkatkan kepercayaan dan kerjasama antar klien dan petugas kesehatan, sehingga memudahkan petugas dalam melakukan tindakan/ konseling.
2.      Lakukan konseling pra pemasangan
R/ dengan melakukan konseling pra pemasangan untuk mengetahui kebutuhan, pertimbangan dan kekhawatiran kliean sehingga tercipta kerjasam antara klien dengan petudas kesehatan.
3.      Lakukan pemeriksaan tanda – tanda vital dan pemeriksaan dalam
R/ dengan melakukan pemeriksaan TTV untuk memasitkan kondisi klien baik sehingga pemasangan berjalan lancer.
4.      Lakukan penapisan pada klien yang akan menggunakan IUD CUT 380 A
R/ dengan melakukan penapisan pada klien untuk menentukan apakah klien dapat menggunakan IUD CUT 380 A atau tidak sehingga nantinya tidak terjadi kompilkasi.
5.      Berikan informed consent sebelum melakukan tindakan pada klien
R/ sebagai bukti bahwa klien telah menyetujui tindakan yang akan dilakukan, dan telah memilih alat kontrasepsi sesuai dengan kehendak klien tanpa paksaan.
6.      Lakukan persiapan pasien dan persiapan alat
R/dengan melakukan persiapan pasien dan alat untuk menujang kelancaran pemasangan sehingga ibu nyaman.
7.      Lakukan pemasangan IUD sesuai dengan standart pemasangan
R/dengan melakukan pemasangan sesuai dengan standart untuk mencegah kompilkasi dan kegagalan kontrasepsi.
8.      Lakukan konseling pasca pemasangan
R/dengan melakukan konseling paska pemasangan klien nyaman dan mengetahui tindakan apa saja yang telah dilakukan.
9.      Dokumentasi tindakan
R/ dengan melakukan dokumentasi dapat dijadikan bukti tertulis bahwa telah dlakukan pemeriksaan.
Intervensi dari masalah – masalah pada penggunaan kontrasepsi IUD
1.      Mules – mules
Tujuan             : mules – mules berkurang
KH                  : Ibu dapat beraktifitas dengan baik

Intervensi        :
1.      Anjurkan ibu untuk menarik nafas bila terasa nyeri
R/ dengan menarik nafas disaat nyeri ibu rileks dan sehingga mengurangi nyeri yang dirasakan
2.      Anjurkan ibu untuk tidak beraktifitas berat
R/ dengan menganjurkan untuk tidak beraktifitas berat karena hari – hari pertama tubuh ibu perlu penyesuain dan sehingga tidak terjadi komplikasi.
3.      Anjurkan ibu periksa bila mulas/ nyeri bertambah hebat
R/ dengan periksa saat diketahui keadaan ibu dan sehingga komplikasi dapat dicegah.
2.      Keputihan
Tujuan             : keputihan berkurang atau teratasi
KH                  : Ibu nyaman dan tidak keputihan lagi
Intervensi        :
1.      Anjurkan ibu menjaga kebersihan alat kelamin
R/ dengan menjaga kebersihan alat genetalia untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur sehingga keputihan dapat berkurang.
2.      Anjurkan ibu kontrol bila keputihan bertambah parah hingga gatal, bau atau berwarna
R/ dengan ibu control dapat diketahui seberapa parah keputihan dan sehingga dapat mencegah kemungkinan infeksi
3.      Suami merasakan benang
Tujuan             : benang tidak dirasakan oleh suami
KH                  : Tidak ada gangguan melakukan hubungan
Intervensi        :
1.      Ajarkan ibu cara memeriksa dan menata benang sendiri
R/ dengan mengajari ibu cara memeriksa benang sendiri agar ibu tahu dan mengerti sehingga ibu tidak bolak balik kontrol dan dapat memeriksa benang sendiri.
2.      Anjurkan ibu menjaga komunikasi dengan suami tentang keluhan yang dialami suami
R/ dengan menganjurkan ibu menjaga komunikasi agar suami memahami istri dan sehingga tidak ada pertengkaran rumah tangga.
3.      Anjurkan ibu kontrol bila keluhan tidak dapat diatasi sendiri
R/dengan menganjurkan ibu control petugas bisa melakukan tindakan sepeti memotong banang agar lebih pendek sehingga ibu merasa nyaman.


Daftar Pustaka


1.      Bari, Abdul Sifuddin. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prwirohardjo.
2.      Hartanto, Hanafi. 2002. Keluarga berencana dan  kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Prawirihardjo, Sarwono. 2008. Pelayanan kesehatan maternal neonatal.Jakarta : YBP-SP.