Laporan Pendahuluan
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
I.
Pengertian
a. Alat
kontrasepsi dalam rahim adalah bahan insert sintetik (dengan atau tanpa unsur
tambahan untuk sinergi efektifitas) dengan berbagai bentuk yang di pasangkan ke
dalam rahim.
(Prawirohardjo,Sarwono.2008)
b. Alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR) IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang
dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya bermacam – macam, terdiri dari
plastik, ada yang dililit tembaga (CU), ada pula yang dililit tembaga bercampur
perak (Ag) selain itu ada pula yang dibatangnya berisi hormon progesteron.
(Hartanto,Hanafi. 2002)
II.
Tempat melakukan pemasangan IUD
Pemasangan IUD
dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih untuk itu, pemasangan IUD
dapat dilakukan di
a. Puskesmas
b. Rumah
sakit/Rumah bersalin
c. Dokter
/Bidan praktek swasta
d. Posyandu
yang ada pelayanan IUD
(Bari,
Abdul Saifuddin.2006)
III.
Waktu penggunaan
a. 2
– 4 hari setelah melahirkan.
b. 40
hari setelah melahirkan.
c. Setelah
terjadinya keguguran, apabila tidak ada gejala infeksi.
d. Hari
pertama sampai ke 7 siklus haid.
e. Selama
1 – 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.
IV.
Jenis – jenis AKDR
a. Lippes
loop, berbentuk spiral
Ada 4 macam jenis
lippes loop :
1. lippes
loop A : panjang 26,2 mm, lebar 22,2 mm,
benang biru, satu titik pada pangkal IUD dekat benang ekor
2. lippes
loop B : panjang 25,2 mm, lebar 27, 4
mm, 2 benang hitam bertitik 4.
3. lippes
loop C : panjang 27, 5 mm, lebar 30,0
mm, 2 benang kuning bertitik 3
4. lippes
loop D : panjang 27,5 mm, lebar 30, 0
mm, 2 benang putih bertitik 2.
Lippes loop dapat dibiarkan in
utero untuk selama – lamanya sampai menopause, sepanjang tidak ada keluhan atau
persoalan bagi akseptornya.
b. Copper
IUD
1. CUT
380 A
-
Panjang 36 mm, lebar 32
mm, kawat CU pada batang vertikal, 2 selubung CU seluas masing – masing 35 mm 2
pada masing – masing lengan
horizontal.
-
Daya kerja 8 tahun
-
Cara insersi Widrawal
2. CUT
200
-
Panjang 36 mm, lebar 32
mm, mengandung 200 mm 2 CU
-
Daya kerja 3 tahun
-
Cara insersi Widrawal
3. CUT
320
-
Panjang 36 mm, lebar 32
mm, 220 mm 2 CU di dalam tubuh selubung.
-
Daya kerja 3 tahun
4. CUT
380 Ag
-
Seperti CUT 380 A,
hanya dengan tambangan inti Ag di dalam
kawat CU nya.
-
Daya kerja 5 tahun
c. Nova
T
-
Panjang 32 mm, lebar 32
mm, 200 mm 2 luas permukaan CU nya dengan inti Ag di dalam kawat CU
nya
-
Daya kerja 5 tahun
-
Pemasangan Widrawal
(
Hartanto, Hanafi. 2002)
V.
Cara kerja AKDR
1. Menghambat
kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
2. Mempengaruhi
fertilisasi sebelum ovum sampai mencapai kavum uteri.
3. Mencegah
sperma dan ovum bertemu walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat
reproduksi perempuan untuk fertilisasi.
4. Memungkinkan
untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
VI.
Indikasi
Yang dapat menggunkan
IUD adalah
1. Usia
reproduktif
2. Keadaan
nulipara
3. Menginginkan
menggunakan kontrasepsi jangka panjang.
4. Setelah
melahirkan
5. Menyusui
dan menginginkan menggunakan kontrasepsi
6. Setelah
abortus dan tidak terjadi infeksi
7. Resiko
rendah dari IMS
8. Tidak
menginginkan metode hormonal
9. Tidak
menyukai untuk mengingat – ingat minum pil setiap hari.
10. Tidak
menginginkan kehamilan setelah 1 – 5 hari senggama (sebagai kontrasepsi darurat)
Pada
umumnya ibu dapat menggunakan AKDR CU dengan aman dan efektif AKDR dapat juga
digunakan oleh ibu dengan segala kemungkinan keadaan, misalnya :
1. Perokok.
2. Pasca
kegagalan kehamilan (abortus)
3. Sedang
memakai obat antibiotika atau anti kejang
4. Gemuk
ataupun kurus dan sedang menyusui.
Atau
pada ibu dengan keadaan seperti dibawah ini :
1. Penderita
tumor jinak payudara.
2. Penderita
kanker payudara.
3. Pusing
– pusing ataupun sakit kepala.
4. Tekanan
darah tinggi
5. Varises
pada tungkai
6. Penderita
penyakit jantung
7. Pernah
menderita stroke
8. Penderita
diabetes
9. Penderita
penyakit kuning atau empedu
10. Malaria
11. Penyakit
tyroid
12. Epilepsi
13. Setelah
kehamilan ektopik.
(Bari,Abdul
saifuddin. 2006)
VII.
Kontraindikasi
Yang tidak
diperkenankan untuk menggunakan AKDR adalah
1. Sedang
hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)
2. Perdarahan
pervaginam yang tidak diketahui sebabnya (sampai dapat dievaluasi)
3. Sedang
mendapat infeksi genetal
4. Kelainan
bawaan uterus yang abnormal dan tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi cavum
uteri.
5. Penyakit
trofoblas yang ganas.
6. Penderita
TBC pelvik
7. Kanker
alat genital
8. Ukuran
rongga rahim kurang dari 5 cm
(Bari,Abdul
saifuddin. 2006)
VIII. Efektifitas
IUD
AKDR
merupakan salah satu alat kontrasepsi yang paling efektif tergantung modelnya.
Angka kehamilan untuk beberapa jenis AKDR berfariasi antara kurang dari 1 sampai 5 per 100 wanita
per tahun. AKDR bertembaga atau yang
mengandung obat pada umumnya lebih efektif dibandingkan AKDR paos. Angka
kehamilan pada lippes loop D misalnya mencapai 4 – 5 % sedang untuk T.CU 380 A
kurang dari 1 per 100 wanita pertahun. Kehamilan dapat terjadi sewaktu AKDR
masih ditempat atau karena ekspulsi yang tidak diketahui atau karena tejadi
translokasi. IUD sangan efektif, efektifitasnya
92 – 94 % dan tidak perlu diingat setiap hari seperti pil.
(Hartanto,
Hanafi.2002).
IX.
Keuntungan dan kerugian
kontrasepsi IUD/AKDR
A. Keuntungan
1. Sebagai
kontrasepsi efektifitasnya tinggi
Sangat efektif 0,6 –
0,8 kehamilan/ 100 perempuan dalam 1 tahun pertama.
2. AKDR
dapat efektif segera setelah pemasangan
3. Metode
jangka panjang
4. Sangat
efektif karena tidak perlu mengingat ingat
5. Tidak
mempengaruhi hubungan seksual
6. Meningkatkan
kenyamanan seksual karena tidak perlu takut hamil
7. Tidak
ada efek samping hormonal kecuali AKDR dengan hormon progesteron
8. Tidak
mempengaruhi kualitas dan volume ASI
9. Dapat
dipasang segera setelah melahirkan atau abortus.
10. Dapat
digunakan sampai menopause.
11. Tidak
ada interaksi dengan obat – obatan
12. Membantu
mencegah kehamilan ektopik.
(Bari,
Abdul saifuddin.2006)
B. Kerugian
·
Efek samping yang umum
terjadi
-
Perubahan siklus haid
(pada umunya 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan)
-
Haid lebih lama dan
banyak.
-
Perdarahan (spotting)
diantara menstruasi
-
Saat haid lebih sakit
-
Gangguan pada suami
saat melakukan hubungan
·
Komplikasi lain
-
Merasakan kejang dan
sakit selama 3 – 5 hari setelah pemasangan
-
Perdarahan berat pada
waktu haid atau diantaranya yang menyebabkan anemia.
-
Perforasi dinding
uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar)
·
Tidak mencegah IMS
termasuk HIV/AIDS
·
Tidak baik digunakan
pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti – ganti pasangan.
·
Penyakit radang panggul
terjadi setelah perempuan dengan IMS memakai AKDR, penyakit radang panggul
dapat memicu infertilitas.
(Bari, Abdul saifuddin.
2006)
X.
Petunjuk bagi klien
1. Kembali
memeriksakan diri setelah 2 minggu pemasangan
2. 4
– 6 minggu pemasangan IUD
3. Selama
bulan pertama menggunakan IUD periksakanlah benang IUD secara rutin terutama
setelah haid.
4. Setelah
6 bulan pemasangan hanya perlu memeriksa keadaan benang setelah haid apabila
mengalami :
a. Kram
/ kejang di perut bagian bawah.
b. Perdarahan
(spotting) diantara haid atau senggama.
c. Nyeri
setelah senggama atau apabila pasangan
mengalami tidak nyaman selama melakukan hubungan seksual.
5. Copper
T 380 A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan tetapi dapat dilakukan lebih
awal apabila diinginkan.
6. Kembali
ke klinik apabila :
a. Tidak
dapat meraba benang IUD
b. Merasakan
benda yang keras dari benang IUD
c. IUD
terlepas
d. Siklus
terganggu atau meleset
e. Terjadi
pengeluaran dari vagina yang mencurigakan
f. Adanya
infeksi
XI.
Informasi umum
1. Kemungkinan
bekerja langsung efektif segera setelah
pemasangan
2. IUD
dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama beberapa bulan
pertama
3. Kemungkinan
terjadinya spotting atau perdarahan beberapa hari setelah pemasangan.
4. Perdarahan
menstruasi biasanya lebih banyak dan lebih lama.
5. Jelaskan
pada klien jenis IUD apa yang digunkan, kapan akan dilepas dan berikan kartu
tentang semua informasi ini.
6. IUD
tidak akan melindungi dari infeksi IMS termasuk virus apabila pemasanganya
beresiko, mereka harus menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual.
(Bari,
Abdul saifuddin.2006)
Pohon
Masalah
|
1.
Menghambat
kemampuan sperma untuk masuk ke Tuba
2.
Mempengaruhi
fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
3.
Mencegah sperma dan
ovum bertemu
4.
Mencegah implantasi
telur dalam uterus
|
Tidak terjadi kehamilan
|
Keuntungan
1. Efektifitas
tinggi
2. Efektif
segera setelah pemasangan
3. Metode
jangka panjang
4. Tidak
perlu mengingat ingat
5. Tidak
mempengaruhi hubungan seksual
6. Tidak
perlu takut hamil
7. Tidak
ada efek samping hormonal
8. Tidak
mempengaruhi ASI
9. Dapat
dipasang segera setelah melahirkan atau setelah Abortus
10. Dapat
dipakai sampai menopause
11. Tidak
ada interaksi dengan obat – obatan
12. Mencegah
kehamilan ektopik.
|
|
Kerugian
1. Perforasi
dinding uterus
2. Tidak
mencegah IMS
3. Tidak
dapat digunakan oleh wanita yang sering – sering berganti ganti pasangan
4. Radang
panggul dapat terjadi setelah perempuan dengan IMS memakai IUD.
5. Merasakan
kejang dan sakit 3 – 5 hari setelah pemasangan.
|
|
Kontraindikasi
1.
Sedang
hamil
2.
Perdarahan
pervaginam tanpa diketahui sebabnya
3.
Ada
infeksi alat genital
4.
Kelainan
atau tumor pada rahim.
5.
Penyakit
trofoblas yang ganas
6.
Menderita
TBC pelvik
7.
Kenker
alat genital
8.
Ukuran
rongga rahim kurang dari 5 cm
|
|
Indikasi
1.
Usia
reproduktif
2.
Keadaan
nulipara
3.
Ingin
kontrasepsi jangka panjang
4.
Setelah
melahirkan
5.
Menyusui
dan ingin kontrasepsi.
6.
Setelah
abortus dan tidak ada infeksi
7.
Resiko
rendah dari IMS
8.
Tidak
ingin metode hormonal
9.
Tidak
ingin mengingat ingat minum pil
10.
Sebagai
kontrasepsi darurat
|
|
AKSEPTOR BARU KB IUD
|
|
Kembali ke klinik jika :
1.
Tidak dapat meraba
benang IUD
2.
Merasakan benda
yang keras dari IUD
3.
IUD terlepas
4.
Siklus terganggu
atau meleset
5.
Terjadi pengeluaran
dari vagina yang mencurigakan
6. Adanya
infeksi.
|
|
Masalah
1. Perubahan
siklus haid
2. Haid
lebih lama, lebih banyak dan sakit
3. Spotting
diantara menstruasi
4. Nyeri
pada penis saat berhubungan seksual
|
|
Penanganan
1. Jika
perdarahan sedikit – sedikit dapat diatasi dengan pengobatan konservatif
2. Pada
perdarahan yang tidak terhenti dengan tindakan diatas, sebaiknya melakukan
pengangkatan IUD
3. Benang
yang terlalu panjang dapat dipotong.
|
|
1. Anjurkan
memeriksakan diri setelah 2 minggu pemasangan.
2. 4
– 6 minggu pemasangan
3. Memeriksa
benang secara rutin selama bulan pertama pemasangan IUD
4. Anjurkan
kembali lagi bila ada keluhan
|
II. Diagnosa, masalah, kebutuhan
Dx : Ny......P..... Akseptor.... dengan KB
IUD.....
Ds : ibu mengatakan ingin menggunakan
kontrasepsi jangka panjang
Do :
Ku ibu : baik
Kesadaran : composmetis
Emosional : stabil
TTV :
TD : 110/70 – 120/ 80 mmHg
N :
80 – 100 X/menit
Mata. Konjungtiva :
merah muda ka/ki
Pemeriksaan fisik
-
Ada benjolan atau tidak
pada payudara ka/ki
-
Ada pembesaran atau
tidak pada Abdomen
-
Ada vaginitis atau
vulvitis atau infeksi pada alat genital
Pemeriksaan dalam
-
Tanda kehamilan : ada / tidak
-
Infeksi, tumor,
pembengkakan : ada / tidak
-
Gerak cervix : bebas atau
tidak
-
Bentuk uterus : ante atau
retrofleksi
Inspekulo
-
Ada erosi porsio atau tidak
-
Ukuran uterus > 5 cm
-
Ada tanda radang atau
tidak
III. Diagnosa dan masalah potensial
-
IV.
Identifikasi kebutuhan segera
V.
Intervensi
Dx :
Ny... P..... Akseptor lama/baru Kb IUD CUT 380 A
Tujuan : ibu dapat memakai Kb IUD CUT 380
A tanpa komplikasi
KH : -
Mulai dari pemasangan sampai selesai tidak ada penyulit
-
Kehamilan dapat dicegah
Intervensi :
1. Lakukan
pendekatan terapeutik dengan klien
R/ meningkatkan kepercayaan dan kerjasama antar
klien dan petugas kesehatan, sehingga
memudahkan petugas dalam melakukan tindakan/ konseling.
2. Lakukan
konseling pra pemasangan
R/ dengan melakukan konseling pra pemasangan untuk mengetahui
kebutuhan, pertimbangan dan kekhawatiran kliean sehingga tercipta kerjasam
antara klien dengan petudas kesehatan.
3. Lakukan
pemeriksaan tanda – tanda vital dan pemeriksaan dalam
R/ dengan melakukan pemeriksaan TTV untuk memasitkan
kondisi klien baik sehingga pemasangan berjalan lancer.
4. Lakukan
penapisan pada klien yang akan menggunakan IUD CUT 380 A
R/ dengan melakukan penapisan pada klien untuk menentukan
apakah klien dapat menggunakan IUD CUT 380 A atau tidak sehingga nantinya tidak
terjadi kompilkasi.
5. Berikan
informed consent sebelum melakukan tindakan pada klien
R/ sebagai bukti bahwa
klien telah menyetujui tindakan yang akan dilakukan, dan telah memilih alat
kontrasepsi sesuai dengan kehendak klien tanpa paksaan.
6. Lakukan
persiapan pasien dan persiapan alat
R/dengan melakukan persiapan pasien dan alat untuk
menujang kelancaran pemasangan sehingga ibu nyaman.
7. Lakukan
pemasangan IUD sesuai dengan standart pemasangan
R/dengan melakukan pemasangan sesuai dengan standart
untuk mencegah kompilkasi dan kegagalan kontrasepsi.
8. Lakukan
konseling pasca pemasangan
R/dengan melakukan konseling paska pemasangan
klien nyaman dan mengetahui tindakan apa saja yang telah dilakukan.
9.
Dokumentasi
tindakan
R/ dengan
melakukan dokumentasi dapat dijadikan bukti tertulis bahwa telah dlakukan
pemeriksaan.
Intervensi
dari masalah – masalah pada penggunaan kontrasepsi IUD
1. Mules
– mules
Tujuan : mules – mules berkurang
KH : Ibu dapat beraktifitas
dengan baik
Intervensi :
1. Anjurkan
ibu untuk menarik nafas bila terasa nyeri
R/ dengan menarik nafas disaat nyeri ibu rileks dan
sehingga mengurangi nyeri yang dirasakan
2. Anjurkan
ibu untuk tidak beraktifitas berat
R/ dengan menganjurkan untuk tidak beraktifitas berat
karena hari – hari pertama tubuh ibu perlu
penyesuain dan sehingga tidak terjadi
komplikasi.
3. Anjurkan
ibu periksa bila mulas/ nyeri bertambah hebat
R/ dengan periksa saat diketahui keadaan ibu dan sehingga
komplikasi dapat dicegah.
2. Keputihan
Tujuan
: keputihan berkurang atau
teratasi
KH : Ibu nyaman dan tidak
keputihan lagi
Intervensi
:
1. Anjurkan
ibu menjaga kebersihan alat kelamin
R/ dengan menjaga kebersihan alat genetalia untuk
mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur sehingga keputihan dapat berkurang.
2. Anjurkan
ibu kontrol bila keputihan bertambah parah hingga gatal, bau atau berwarna
R/ dengan ibu control dapat diketahui seberapa parah
keputihan dan sehingga dapat mencegah kemungkinan
infeksi
3. Suami
merasakan benang
Tujuan : benang tidak dirasakan oleh suami
KH : Tidak ada gangguan melakukan
hubungan
Intervensi :
1. Ajarkan
ibu cara memeriksa dan menata benang sendiri
R/ dengan mengajari ibu cara memeriksa benang sendiri
agar ibu tahu dan mengerti sehingga ibu tidak bolak balik
kontrol dan dapat memeriksa benang sendiri.
2. Anjurkan
ibu menjaga komunikasi dengan suami tentang keluhan yang dialami suami
R/ dengan menganjurkan ibu menjaga komunikasi agar suami
memahami istri dan sehingga tidak ada pertengkaran rumah tangga.
3. Anjurkan
ibu kontrol bila keluhan tidak dapat diatasi sendiri
R/dengan menganjurkan ibu control petugas bisa melakukan
tindakan sepeti memotong banang agar lebih pendek sehingga ibu merasa nyaman.
Daftar Pustaka
1. Bari,
Abdul Sifuddin. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi.Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prwirohardjo.
2. Hartanto,
Hanafi. 2002. Keluarga berencana dan
kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Prawirihardjo, Sarwono.
2008. Pelayanan kesehatan maternal neonatal.Jakarta : YBP-SP.