Selasa, 06 September 2016

LAPORAN PENDAHULUAN
HPP

1.    Definisi
Haemorragic Post Partum (HPP) atau Perdarahan Post Partum adalah perdarahan setelah bayi lahir yang volumenya melebihi 500 ml (IBG, Manuaba: 2010). Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan menentukan jumlah perdarahan yang terjadi karena bercampur dengan air ketuban dan serapan pakaian atau kain alas tempat tidur.
Oleh sebab itu maka batasan operasional untuk periode pasca persalinan adalah setelah bayi lahir. Sedangkan tentang jumlah perdarahan, disebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari normal dimana telah menyebabkan perubahan tanda vital (Sarwono; 2008) seperti:
▪  Pasien mengeluh lemah, limbung
▪  Berkeringat dingin
▪  Menggigil
▪   Hipernea
▪  Sistolik < 90 mm Hg
▪  Nadi   >  100  x/mnt
▪  Kadar Hb  <  8 gr %
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih 500-600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. (www.gynecology.com).
Perdarahan post partum adalah perdarahaan dalam kala IV lebih 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir. (Rustam Mochtar, 2007).
àPembagian perdarahan post partum:
1.  Perdarahan post partum primer (early postpartum hemorrhage) yang terjadi selama 24 jam setelah anak lahir. Penyebab utama post partu primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir. Terbanyak dalam dua jam pertama.
2. Perdarahan post partum sekunder (late postpartum hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam anak lahir. Biasanya hari ke 5-15 post partum. Penyebab utama perdarahan adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. (Manuaba, 2010).

2.    Etiologi
Etiologi perdarahan post partum:
1.            Atonia uteri
Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri adalah :
1)            Umur : umur yang terlalu muda atau tua
2)            Paritas : sering dijumpai terjadi pada multipara dan grandemultipara
3)            Partus lama
4)            Obstetri operatif dan narkosa
5)            Uterus terlalu regang dan besar, misalnya gemelli, hidramnion, atau janin besar
6)            Kelainan pada uterus, seperti mioma uteri, uterus couvelair pada solusio plasenta
7)            Faktor sosial ekonomi, yaitu malnutrisi.
2.      Sisa plasenta dan selaput ketuban
3.      Jalan lahir : robekan perineu, vagina, serviks, forniks dan rahim.
4.      Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia yang sering dijumpai:
1)            Perdarahan yang banyak
2)            Solusio plasenta
3)            Kematian janin yang lama dalam kandungan
4)            Pre eklamsi dan eklamsi
5)            Infeksi, hepatitis dan syok septic. (Rustam Mochtar, 2007)

3.    Faktor Predisposisi
1.      Keadaan Umum parturien yang mempunyai gizi rendah.
-   Hamil dengan anemia
-   Hamil dengan kekurangan gizi / malnutrisi
2.      Kelemahan dengan kelelahan otot rahim
-          Grandemulti para
-          Jarak kehamilan dan persalinan kurang dari 2 tahun
-          Persalinan lama atau terlantar
-          Persalinan dengan tindakan narkose
-          Kesalahan penanganan kala III ialah kalau rahim dipijat-pijat untuk mempercepat lahirnya placenta (Sarwono, 2008)
3.      Pertolongan persalinan dengan tindakan disertai narkose.
4.      Overdistensi pada kehamilan
-          Hidramnion
-          Gemelli
-          Anak yang melebihi 4000 gram

4.    Diagnosa
Diagnosa perdarahan post partum dapat ditegakkan dengan memperhatikan :
1.      Adanya perdarahan post partum yang banyak dalam waktu singkat.
2.      Pada pemeriksaan dijumpai :
1)        Uterus yang lembek
2)        Terdapat perlukaan jalan janin
3)        Disertai atau tanpa retensio plasenta
4)        Terdapat Hematoma.
3.      Perdarahan melebihi 25 % dari volume darah akan menimbulkan gejala klinis:
1)        Kesadaran menurun
2)        Frekuensi nadi dan pernafasan meningkat, tekanan darah menurun.
3)        Daerah ujung ekstremitas terasa dingin.
4)        Parturien tampak pucat (anemia)
5)        Pada keadaan yang serius, disertai gejala shock.

5.    Penilaian Klinik

Gejala dan Tanda
Penyulit
Diagnosa Kerja
Uterus tidak berkontraksi dan lembek, perdarahan setelah bayi lahir.
·          Shock
·          Bekuan darah pada serus atau posisi terlentang akan menghambat aliran darah keluar.
Atonia Uteri
Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir.
Uterus berkontraksi dan keras Placenta lengkap.
·          Pucat
·          Lemah
·          menggigil
Robekan jalan lahir
Placenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera setelah bayi lahir.
Uterus berkontraksi dan keras
Tali pusat putus akibat reaksi berlebihan.
Inversio uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan.
Retensio Placenta
Placenta/sebagian selaput tidak lengkap.
Perdarahan segera setelah bayi lahir.
Uterus berkontraksi tetapi tinggi Furdus tidak berkurang.
Tertinggalnya sebagian placenta.
Uterus tidak teraba
Lumen vagina terisi massa
Tampak tali pusat (bila placenta belum lahir)
Neurogenik shock
Pucat dan limbung
Inversio Uteri
Sub.Invelusi Uterus
Nyeri tekan perut bawah dan pada uterus perdarahan Lokhsa makopurulen dan berbau
(bila disertai infeksi)
·   Anemia
·   demam
Endometritis
Atau, sisa fragmen placenta
(terinfeksi atau tidak)

6.    Penanganan Perdarahan post partum
Berupa :
1.      mencegah perdarahan post partum
2.      mengobati perdarahan kala uri
3.      mengobati perdarahan post partum pada atonia uteri
Cara mengobati perdarahan kala uri :
1.      memberikan oksitosin
2.      mengeluarkan plasenta menurut cara Credee (1-2 kali)
3.      mengeluarkan plasenta dengan tangan.Penanganan Perdarahan post partum

7.    Komplikasi
1.      Memudahkan terjadinya:
1)      Anemia yang berkelanjutan
2)      Infeksi puerperium.
2.      Terjadi rehrosis hipofisis anterior dan sindrom sheehan
1)      Kelemahan umum (Asthenia)
2)      Menurunnya berat badan sampai cachexia
3)      Penurunan fungsi sexsual
4)      Memudarnya tanda-tanda seks sekunder
5)      Turunnya metabolisme – hipotensi
6)      Amenarea sekunder
3.      Kematian perdarahan post partum

8.    Pencegahan
Cara mencegah perdarahan post partum yaitu memeriksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar hemoglobin, golongan darah dan bila mungkin tersedia donor darah. Sambil mengawasi persalinan, dipersiapkan keperluan untuk infus dan obat-obatan penguat rahim atau uterotonika. Setelah ketuban pecah, kepala janin mulai membuka vulva, infus di pasang dan sewaktu bayi lahir diberikan satu ampul metergin atau kombinasi dengan lima satuan sintosinon atau sintometrin intravena. Hasilnya biasanya memuaskan.
Pencegahan terjadinya perdarahan post partum merupakan tindakan utama, sehingga dapat menghemat tenaga, biaya dan mengurangi komplikasi.
Upaya preventif dapat dilakukan dengan :
2.        Meningkatkan kesehatan ibu, sehingga tidak terjadi anemia semasa kehamilan.
3.        Melakukan persiapan pertolongan persalinan
4.        Meningkatkan usaha penerimaan KB
5.        Melakukan  pertolongan persalinan di rumah sakit  bagi ibu yang mengalami perdarahan post partum habitualis.
6.        Memberikan uterolunika segera setelah persalinan bayi, sehingga persalinan placenta dipercepat dan mengurangi perdarahan.

9.    Pertolongan khusus
·         Pada perdarahan karena atonia uteri dan retensio placenta :
1.      Melakukan placenta manual
2.      Pemijatan otot rahim secara bimanual atau
3.      Pemberian uterotonika im / iv dengan drip
4.      Melakukan pemasangan tampon uterovaginal selama 24 jam dengan dacier kateter.
5.      Bila gagal dilakukan tindakan operasi Ligan ateri hipogastrika / histerektomi.
·         Pada perdarahan yang disebabkan oleh trauma / perlukaan jalan lahir :
1.        Evaluasi tempat luka dengan menggunakan Spekulum.
2.        Melakukan Ligasi bekas luka trauma persalinan.
·         Pada perdarahan yang disertai hipofibrinogenemia, yaitu :
1.    Solusi placenta
1)        Infus cairan pengganti
2)        Utero tonika dosis adekuat
3)        Tambahan fibrinogen langsung
4)        Dapat diberikan tranfusi dengan jumlah darah cukup.
2.    Intrauterine fetal death / missed abortion
1)        Pemeriksaan darah disertai analisa faktor pembekuan darah.
2)        Berikan fibrinogen dalam dosis yang cukup.
3.        Emboli air ketuban.
        Ketuban pecah diikuti sesak napas, frekuensi detak jantung meningkat, menggigil, kedinginan, sianosis, shock dan dalam waktu singkat meninggal.
        Bahaya perdarahan disebabkan oleh gangguan fungsi pembekuan darah atau sindrom hipofibrinogenemia.
(Harry.Oxorn & William R Forte.2010)

Perdarahan Post Partum Sekunder.
Sebagian besar disebabkan oleh placenta rest. Penanganannya adalah :
1.      Pemasangan infus untuk persiapan kuretase.
2.      Pemberian narkose ringan seperti ketalar, pentalal atau,
3.      Melakukan kuretase diikuti dengan pemberian utera tonika.
Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan post partum :
1.      menghentikan perdarahan
2.      mencegah timbulnya syok
3.      mengganti darah yang hilang.
 Pengeluaran plasenta dengan tangan segera sesudah janin lahir dilakukan bila :
1.      menyangka akan terjadi perdarahan post partum
2.      perdarahan banyak atau lebih dari 500 cc
3.      retensio plasenta
4.      melakukan tindakan obstetri dalam narkosa
5.      riwayat perdarahan post partum pada persalinan yang lalu.
Pencegahan terjadinya perdarahan post partum merupakan tindakan utama, sehingga dapat menghemat tenaga, biaya dan mengurangi komplikasi.
Upaya preventif dapat dilakukan dengan :
-          Meningkatkan kesehatan ibu, sehingga tidak terjadi anemia semasa kehamilan.
-          Melakukan persiapan pertolongan persalinan secara
-          Meningkatkan usaha penerimaan KB
-          Melakukan  pertolongan persalinan di rumah sakit  bagi ibu yang mengalami perdarahan post partum habitualis.
-          Memberikan uterolunika segera setelah persalinan bayi, sehingga persalinan placenta dipercepat dan mengurangi perdarahan.
            (Harry.Oxorn & William R Forte.2010)



POHON MASALAH
1.    Pemijatan fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (maksimal 15 detik)

Uterus berkontraksi?
Evaluasi rutin. Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung, periksa apakah perineum vagina dan serviks mengalami larsasi dan jahit atau rujuk segera
2.    Bersihkanlah bekuan darah dan/atau selaput ketuban dari vagina dan lubang serviks.
3.    Pastikan bahwa kandungan kemih telah kosong. Jika penuh atau dapat di palpasi, kaleterasi kandungan kemih menggunakan teknik aseptic.
4.    Lakukan kompresi bimanual internal (KBI selama 5 menit).

Uterus berkontraksi?
Teruskan KBI selama 2 menit keluarkan tangan perlahan-lahan pantau kala empat dengan ketat
5.    Anjurkan keluarga untuk mulai melakukan kompresi bimanual eksternal.
6.    keluarkan tangan perlahan-lahan
7.    Berikan ergometrin 0,2 mg IM (jaringan diberikan jika hipertensi)
8.    Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml ringer laktat ± 20 unit oksitosin. Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin
9.    Ulangi KBI

Uterus berkontraksi?
Evaluasi rutin. Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung, periksa apakah perineum vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera
10.    Rujuk segera
11.    Dampingi ibu ke tempat rujukan
12.    Lanjutkan infus ringer laktat ± 20 unit oksitosin dalam 500 ml larutan dengan laju 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga menghabiskan 1,5 lt infus. Kemudian berikan 125 ml/jam. Jika tidak tersedia cairan yang cukup, berikan 500 ml kedua dengan perlahan dan berikan minuman untuk rehidrasi.

 





Ya

                                          Tidak




                                                                  
                                                                   Ya

                                        Tidak




                                                                 
                                                                  Ya

                                          Tidak



I Interpretasi data dasar
DS :Ibu melahirkan ….. jam yang lalu, melahirkan anak ke ….. secara normal dan sekarang mengeluarkan darah sur –sur dan sudah ganti pembalut ….. x
DO :
              TFU : 2 jari bawah pusat
              UC   : lemah/baik
              KU   : agak pucat / pucat
              Kesadaran : compos mentis
              TTV :
              TD : 120/80 – 100/60 mmHg
              N  : 80 -100 x/menit
               S   : 365 -375 0 C
              Lochea : rubra
              Perdarahan > 500 cc
Dx : P……… 0 – 24 jam Post Partum dengan HPP primer

II Dx/masalah potensial
Syok

III Kebutuhan Segera
Penanganan Syok

IV. Intervensi
Dx : P……… 0 – 24 jam Post Partum dengan HPP primer
Tujuan :masa nifas berjalan normal
Kriteria Hasil :
·         KU ibu baik
·         Kesadaran compos mentis
·         Perdarahan berhenti
·         UC : baik
Intervensi
1.
Lakukan masase selama 15 detik.

R/
merangsang kontraksi uterus
2.
Observasi TTV

R/
dapat segera terdeteksi bila terjadi hal yang tidak normal
3.
Bersihkan bekuan darah/atau selaput ketuban dari vagina dan saluran serviks (eksplorasi)

R/
bekuan darah dan selaput ketuban akan menghalangi kontraksi uterus.
4.
Pastikan kandung kemih kosong.

R/
kandung kemih dapat menghalangi kontraksi uterus.
5.
Lakukan kompresi bimanual internal.

R/
kompresi uterus  ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh terbuka dan dinding dalam uterus dan merangsang miometrium untuk berkontraksi sehingga mempercepat involusi
6.
Pasang Infus

R/
untuk mencegah terjadinya syok
7.
Periksa ulang kelengkapan plasenta

R/
untuk memastikan tidak ada sisa plasenta yang tertinggal di dalam uterus.
8.
Periksa ulang kemungkinan robekan servix, vagina dan perineum

R/
memastikan tidak ada laserasi
9.
Berikan injeksi metergin 1 amp

R/
untuk menghentikan perdarahan dari bawah
10.
Observasi pemantauan kala IV.

R/
Untuk memantau keadaan ibu agar tidak terjadi komplikasi.
11.
Anjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya

R/
hisapan bayi akan merangsang otot-otot polos payudara berkontraksisehingga mempercepat proses involusi.
12.
Motivasi klien untuk menjaga personal hygiene (ganti pembalut).

R/
agar ibu terhindar dari infeksi.




DAFTAR PUSTAKA

1.      Acuhan Persalinan Normal. 2008. Dinas Kesehatan RI
2.      Harry, Oxon & William Forte. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi Persalinan. Yogyakarta : ANDI.YEM
3.      Manuaba, Prof. Dr. Ida Bagus Gde, SpOG. 2010. Ilmu Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta : EGC
4.      Saifudin, Abdul Bari. 2008. Buku Acuhan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Jakarta : YBP-SP
5.      Winkjosarto, Hanifa. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP



AKADEMI KEBIDANAN MEDIKA WIYATA
·      Ijin Depkes RI No.HK.03.2.4.1.03896
·      Ijin Dikti No. 194/D/O/2007
·      Akreditasi B
                 Jl Semeru VI 18 Kediri Telp. (0354) 776638
FORMAT ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS
Nama Mahasiswa                    : Nur Mariani Rohmatin
NIM                                        : 10.010
Semester                                  : V
Tanggal masuk RS/BPS/ RB/PKM                 : 20November 2012
Jam                                                                  : 08.00 WIB
Tanggal pengkajian                                         :  20November 2012
Jam                                                                  : 08.00 WIB
No.registrasi                                                    : 
Diagnosa masuk                                              :  P2002 dengan HPP primer

I.       PENGKAJIAN
A.    DATA  SUBYEKTIF
1.       Identitas (biodata)                            
Nama pasien    : Ny. T                                     Nama Suami    : Tn.D
Umur               : 21 th                                      Umur               : 24 th
Suku/bangsa    : Jawa / Indonesia                  Suku/bangsa    : Jawa/Indonesia
Agama             : Islam                                     Agama             : Islam
Pendidikan      : SMP                                      Pendidikan      : SMP
Pekerjaan         : Ibu rumah tangga                  Pekerjaan         : Swasta
Penghasilan     : -                                             Penghasilan     : Rp.1.000.000,-
Alamat kantor : -                                             Alamat kantor : -
Alamat rumah             : Desa Gamol- Langenharjo    Alamat rumah :Ds. Gamol- Langenharjo
2.      Keluhan Utama
Ibu melahirkan 2 jam yang lalu dan sekarang mengeluarkan darah sur –sur banyak
3.      Riwayat Perkawinan
Kawin : 1 kali
Kawin pertama kali usia : 21 tahun
Dengan suami sekarang sudah : 2 tahun
4.      Riwayat Menstruasi
Menarche                  : 13 tahun
Lama                         : 5 -6 hari
Banyaknya                : 3 x ganti softek
Teratur/ tidak            : teratur
Disminorhea              : tidak
Flour albus                : tidak
Jumlah                       : -
Warna/bau                 : -
5.      Riwayat Obstetrik
a.       Riwayat Kehamilan                    
G : I                      P : 0000
Usia kehamilan berapa saat persalinan anak terakhir : 9 bulan
Proses persalinan : berjalan normal
Penolong              : bidan
6.      Riwayat KB
Jenis kontrasepsi                   : suntik 3 bulan
Mulai menggunakan             : 2011
Mulai melepas                       : 2012
7.      Riwayat Kesehatan yang Lain
Ibu tidak menderita penyakit kronis dan menular seperti TBC, DM, hepatitis, dll
8.      Riwayat Kesehatan keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit menular/ kronis seperti DM, asma dll
9.      Riwayat kehamilan terakhir
ANC 6x TM 1 2x (mual -mual), TM II 2x (taa), TM III 2x (taa)
10.  Riwayat persalimam yang sekarang
Px datang buka 4 jam 00.30, jam 03.00 VT 10 cm
11.  Keadaan bayi
Bayi lahir normal (spontan), A-S (9 -10), ♂, BB : 3500 gr, PB : 50 cm pada pukul 06.10 WIB tanggal 20 November 2012
12.  Pola makan dan  minum
a.       Saat hamil
Makan      : 4x sehari, menu = nasi, sayur, lauk dan 1 porsi habis
Minun       : 6-7 gelas/hari, air putih
b.      Selama nifas
Makan      :, menu = nasi, sayur, lauk dan 1 porsi habis
Minum      : 2 gelas selama pengkajian masa nifas
Perubahan pola makan yang dialami selama hamil dan setelah melahirkan menurun, karena ibu terlalu capek.
13.  Pola aktivitas sehari-hari
a.       Saat hamil
Istirahat           :  santai sambil lihat TV
Tidur                :  siang ± 1 jam, malam ± 6 jam
            Seksualitas      :  1 kali dalam 2 minggu
b.      Selama Nifas
Istirahat           :  tiduran di atas bed sambil meneteki bayi
Tidur                :  belum
            Seksualitas      :  Belum
14.  Pola eliminasi
a.       Saat hamil
BAB    : 1x dalam1hari dengan konsistensi lembek berwarna kuning
BAK   : 6-7 kali, berwarna kuning, jernih, berbau khas
b.      Selama Nifas
BAB    : belum
BAK   : 1x selama pengkajian warna dan bau khas
15.  Perilaku kesehatan
Minum alkohol / obat-obatan         : tidak pernah
Merokok, makan sirih, kopi            : tidak
Ganti pakaian dalam                       : 2 kali ganti pembalut selama pengkajian dan 2 kali ganti  pakaian dalam
16.  Kepercayaan yang berhubungan dengan nifas       :  Brokohan, sepasaran, selapanan
17.  Keadaan pikologi
·         Hubungan pasien dengan keluarga
                        Baik, Ibu didampingi keluarga saat lahirkan
·         Hubungan pasien dengan masyarakat
                        Baik, banyak tetangga yang menjenguk di BPS Ny. Tri Siswanti

B.     DATA OBYEKTIF
1.      Pemeriksaan umum
a.       Keadaan umum         :   agak pucat
b.      Kesadaran                 :   composmentis
c.       Penampilan                :  pucat
d.      Tekanan Darah          : 100/80 mmHg
e.       Suhu tubuh                : 36,50C
f.       Denyut nadi              : 84 x/m
g.      Pernafasan                 : 18 x/m
2.      Pemeriksaan khusus
a.       Kepala
Inspeksi   :   warna rambut hitam, keadaan bersih
Palpasi     :   tidak ada benjolan, rambut tidak rontok
b.      Muka cloasma gravidarum      : tidak
c.       Mata : Kelopak mata   : simetris ka/ki dan tidak odema ka/ki
Inspeksi   :   Konjungtiva : pucat ka/ki
                     Sklera            : putih keabuan ka/ki
                     Pupil             : meiosis ka/ki
d.      Hidung
Inspeksi   :   Bentuk    : simetris : ya
                     Sekret     : tidak ada ka/ki
                     Polip       : tidak ada ka/ki         
e.       Mulut dan gigi
Inspeksi   :   Lidah                  : bersih
                     gusi                     :tidak epulis
                     gigi                     :tidak caries 
f.       Telinga     : Serumen : tidak ada ka/ki
g.      Leher
Inspeksi   :   Bentuk normal
Palpasi     :   Pembesaran kel tyroid    : tidak ada
                     pembesaran V.Jugularis  : tidak ada
h.      Axilla       : Pembesaran kel. Limfe     : tidak ada ka/ki
i.        Dada
                        Payudara : Pembengkakan                  :tidak  ada ka/ki
                    Simetris                      : ya (ka/ki)
                    Papilla mamae : menonjol ka/ki
                    benjolan/tumor           : tidak ada ka/ki
                    pengeluaran               : ada (kolostrom) ka/ki
                    strie                            : tidak ada ka/ki
                    Kebersihan                 : payudara bersih ka/ki
j.        Abdomen
·         TFU dan kontraksi           : 2 jari bawah pusat, kontraksi lemah
·         Bekas luka operasi            : tidak ada
·         Kandung kemih                : kosong
k.      Punggung
Inspeksi   :   Bentuk tulang belakang normal
l.        Ekstremitas atas
Inspeksi   :   Odema    : tidak ada ka/ki
                     Varises    : tidak ada ka/ki
                     Simetris  : iya ka/ki        
m.    Ekstremitas bawah
Inspeksi   :   Odema    : tidak ada ka/ki
                     Varises    : tidak ada ka/ki
                     Simetris  : iya ka/ki

n.      Anogenital 
·         Keadaan perineum                                 : ada luka jahitan, menutup
·         Luka jahitan episiotomi              :tidak ada
·         Lochea                                                   : rubra
·         Anus                                                       : tidak haemoroid
Perkusi
·         Reflek patela      : positif  ka/ki
3.      Pemerisaan penunjang lain : Tidak dilakukan
II.                DIAGNOSA / MASALAH/KEBUTUHAN
Tanggal         : 20November 2012                Jam      : 08.10 WIB
Diagnosa       : P20022 jam Post Partum dengan HPP primer
Ds : Ibumelahirkan anak kedua 2 jam yang lalu secara normal dan sekarang merasa darahnya keluar sur- sur banyak dan sudah ganti pembalut 2x
Do : Keadaan umum : lemah
Kesadaran                   : Compomentis
Keadaan emosional     : stabil
TTV
Tekanan Darah            : 100/80 mmHg
Suhu tubuh                  : 36,5 ˚C
Nadi                            : 84 x/menit
Pernapasan                  : 22 x/menit
-          TFU                      : 2 jari bawah pusat
-          Kontraksi uterus   : lemah
-          Kandung kemih    : kosong
-          Genetalia              : lochea rubra, perineum ada luka jahitan (menutup)
-          Perdarahan ± 600 ml
Bayi lahir pukul 06.10 WIB

II.   DIAGNOSA/ MASALAH POTENSIAL
       Syok

III.   KEBUTUHAN SEGERA
       Penanganan Syok
IV.   INTERVENSI
       Tanggal 20 November 2012         Jam : 08.12 WIB
       Dx :P20022 jam Post Partum dengan HPP primer
       Tujuan : masa nifas berjalan normal
       Kriteria Hasil :
·         KU ibu baik
·         Kesadaran compos mentis
·         Perdarahan berhenti
·         UC : baik
       Intervensi
1.
Lakukan masase selama 15 detik.

R/
merangsang kontraksi uterus
2.
Observasi TTV

R/
dapat segera terdeteksi bila terjadi hal yang tidak normal
3.
Bersihkan bekuan darah/atau selaput ketuban dari vagina dan saluran serviks (eksplorasi)

R/
bekuan darah dan selaput ketuban akan menghalangi kontraksi uterus.
4.
Pastikan kandung kemih kosong.

R/
kandung kemih dapat menghalangi kontraksi uterus.
5.
Lakukan kompresi bimanual internal.

R/
kompresi uterus  ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh terbuka dan dinding dalam uterus dan merangsang miometrium untuk berkontraksi sehingga mempercepat involusi
6.
Pasang Infus

R/
untuk mencegah terjadinya syok
7.
Periksa ulang kelengkapan plasenta

R/
untuk memastikan tidak ada sisa plasenta yang tertinggal di dalam uterus.
8.
Periksa ulang kemungkinan robekan servix, vagina dan perineum

R/
memastikan tidak ada laserasi
9.
Berikan injeksi metergin 1 amp

R/
untuk menghentikan perdarahan dari bawah
10.
Observasi pemantauan kala IV.

R/
Untuk memantau keadaan ibu agar tidak terjadi komplikasi.
11.
Anjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya

R/
hisapan bayi akan merangsang otot-otot polos payudara berkontraksisehingga mempercepat proses involusi.
12.
Motivasi klien untuk menjaga personal hygiene (ganti pembalut).

R/
agar ibu terhindar dari infeksi.
V.      IMPLEMENTASI
       Tanggal 20 November 2012         Jam : 08.15 WIB
       Dx :P20022 jam Post Partum dengan HPP primer
1.
Melakukan masase selama 15 detik.

Hasil :
Uterus berkontraksi dan dilanjutkan massase sampai 15 menit oleh keluarga
2.
Mengobservasi TTV

Hasil :
TD : 110/80 mmHg
N : 88 x/menit
S : 36,5 0 C
RR : 22 x/menit
3.
Membersihkan bekuan darah/atau selaput ketuban dari vagina dan saluran serviks (eksplorasi)

Hasil :
Bekuan darah/ selaput ketuban dari vagina dan servik bersih
4.
Memastikan kandung kemih kosong.

Hasil :
kandung kemih kosong
5.
Mengobservasi TFU dan Kontraksi

Hasil :
TFU 2 jari bawah pusat
UC : baik
6.
Memasang infus

Hasil :
Infus sudah terpasang , cairan RL 500 cc grojok + drip pitogin 1 ampul di lengan kanan
7.
Memeriksaulang kelengkapan plasenta

Hasil :
Plasenta lahir lengkap tidak ada sisa plasenta yang masih tertinggal
8.
Memeriksa ulang kemungkinan robekan servix, vagina dan perineum

Hasil :
tidak ada laserasi
9.
Memberikan injeksi metergin 1 amp

Hasil :
Perdarahan berhenti
10.
Menganjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya
11.
Motivasi ibu untuk menjaga personal hygiene (ganti pembalut).

Hasil :
Ibu mengerti apa yang disampaikan

VI.   EVALUASI
       Tanggal 20 November 2012         Jam : 09.00 WIB
S :
Ibu mengatakan darahnya tidak sur – sur lagi
O :
Perdarahan berhenti
KU ibu : baik
Kesadaran : compos mentis
Keadaan emosional : stabil
TTV
TD : 120/80 mmHg
N   : 88 x/menit
S    : 36,6 0 C
RR : 20 x/menit
Colostrum keluar ka/ki
TFU : 2 jari bawah pusat
UC : baik
Lochea : rubra
A :
P2002 3 jam Post Partum
P :
Melanjutkan observasi
·         Observasi TTV
·         Observasi perdarahan
·       Observasi TFU dan UC